Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Cegah Resistensi Antibiotik, Obat Hewan Ternak Harus Diuji Oleh Otoritas Veteriner

Written by bayuns on November 17, 2016. Posted in Event

wo-1 wo-2 wo-3

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Penyediaan protein hewani untuk konsumsi yang bersumber dari produksi daging, telur, susu tidak terlepas dari resiko resistensi antibiotik pada hewan dan manusia. Hal ini salah satunya disebabkan oleh maraknya penggunaan obat untuk ternak yang tidak terdaftar atau illegal.

Selain cepat kadaluarsa, obat yang digunakan tidak memenuhi syarat mutu dan keamanan. Sehingga menyebabkan mikroba resisten terhadap antibiotik. Untuk mengatur hal tersebut, pemerintah telah mengeluarkan peraturan yaitu UU No. 18 tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Pada pasal 50 ayat 1 disebutkan obat hewan yang dibuat dengan maksud diedarkan harus memiliki nomor pendaftaran serta pengujian dilakukan di bawah pengawasan Otoritas Veteriner.

Menyikapi situasi demikian, ASOHI (Asosiasi Obat Hewan Indonesia) yang diwakili oleh drh. Andi Wijanarto mengatakan mendukung kebijakan pemerintah dan siap mendorong anggotanya menyediakan produk yang sesuai dengan aturan yang telah ditentukan. Namun pelaksanaannya dilakukan secara bertahap.

“Sebelum Pemerintah melakukan tindakan pengaturan pemakaian antimikroba dalam pakan, mestinya dilakukan studi menyeluruh dan Risk Assesment ,” ujar Andi yang bertindak sebagai pembicara pada Workshop Pengembangan Peternakan Berkelanjutan bertema “Peningkatan Produktivitas Ternak Berbasis Zat Bioaktif dari Tanaman Fitofarmaka” yang memasuki hari terakhir dari rangkaian Seminar Nasional yang diselenggarakan Fakultas Peternakan Unpad, Kamis (17/11/2016)

Ia berharap, pemerintah dapat melakukan percepatan proses registrasi produk, serta kerjasama yang melibatkan kerjasama antara berbagai pihak. “Kerjasama ini untuk pengembangan produk yang tergabung dengan para peneliti dari berbagai institusi diantaranya adalah perguruan tinggi. Hasil penelitian disampaikan ke ASOHI, kemudian pihak peneliti dapat melakukan riset dengan melihat peluang sesuai kebutuhan. Baik dari segi kemudahan sumber bahannya dan dari segi ekonomi yang terjangkau,” ucapnya.

Dr. Sauland Sinaga dosen yang juga praktisi dari Fakultas Peternakan Unpad menjelaskan mengenai solusi pengganti antibiotik yang bersumber dari alam yakni Fenol atau Tanin.

“Fenol banyak terdapat di alam, mempunyai peranan penting dalam kualitas sensoris dan nutrisi buah, sayuran, herbal dan tanaman lainnya termasuk hijauan pakan ternak,” tutur Sauland.

Sementara itu, Romi M menyoroti tuntutan konsumen akan produk peternakan yang sehat, aman dan bebas dari residu yang berbahaya. “Masalah tersebut muncul karena larangan penggunaan antibiotik pada ternak misalnya Avilamycin, Avoparcin, Flavomycin, Salinomycin, Spiramycin, dan Virginiamycin,” ungkapnya. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment