Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Bangga dan Percaya Terhadap Sumber Daya Genetik Ternak Indonesia

Written by bayuns on November 13, 2013. Posted in Event

Workshop.1 Workshop.2 Workshop.3

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Permintaan daging sapi dan unggas, sesuai dengan perubahan pertumbuhan penduduk serta laju urbanisasi, akan bertambah dua kali lipat pada tahun 2030. Sebagai konsekuensinya, dibutuhkan langkah berkelanjutan dalam melestarikan Sumber Daya Genetik Ternak di wilayah negara berkembang, khususnya Indonesia.

Steve Staal perwakilan dari International Livestock Research Institute Regional Representative for East and Southeast Asia, menyampaikan hal tersebut pada Workshop Nasional Peternakan Berkelanjutan yang memasuki hari terakhir di Jatinangor, Rabu (13/11).  Menurutnya, keberlanjutan upaya pelestarian ditentukan oleh ketahanan dan ketekunan peternak. Terutama mengurangi dampak negatif eksternal terhadap lingkungan.

“Sistem atau model yang dapat dikembangkan yakni model peternak kecil dan model industri peternakan. Kedua sistem ini saling mendukung, meskipun pada keduanya terdapat beberapa perbedaan,” kata Steve.

Dijelaskannya, untuk industri peternakan dapat terlihat dari subsidi yang sering diterima, padat modal, ekonomi yang kuat, nilai tambah produk serta permintaan relatif tinggi. Sementara peternak kecil, merupakan padat karya. Dimana ekonominya lemah, produk murah, dan kurangnya bantuan atau subsidi dari pemerintah.

Untuk mengatasi masalah tersebut, Fini Murfiani dari Direktorat Perbibitan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Republik Indonesia mengatakan, pemerintah telah menerbitkan UU No. 18 Tahun 2009 dan PP No. 48 Tahun 2011 guna menjamin pelestarian dan pemanfaatan Sumber Daya Genetik Hewan serta menjamin ketersediaan benih dan bibit ternak.

“Dengan adanya peraturan ini, dapat mencegah kemungkinan pengambilan secara ilegal rumpun atau galur ternak, yang telah terbentuk di suatu wilayah. Oleh karena itu, kita harus bangga dan percaya pada Sumber Daya Genetik Indonesia,” ucap Fini.

Sementara itu, Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat Koesmayadi TP menyatakan, kebutuhan daging sapi di Jawa Barat tahun 2012 sebesar 331.363 ton, dimana yang terpenuhi hanya 50.659 ton atau 33,29 persen. “Yang menjadi masalah yaitu, masih banyak ternak hasil IB yang dijual keluar Jawa Barat. Kemudian, maraknya pemotongan ternak betina yang masih produktif dan budidaya yang masih bersifat tradisional,” katanya.

Ia memaparkan, terobosan yang diambil oleh pemerintah provinsi Jawa Barat diantaranya pemetaan sumber bibit, integrasi tanaman pakan dan perkebunan dengan ternak, optimalisasi Inseminasi Buatan, peningkatan akses modal, serta pengendalian penyakit reproduktif. Acara yang dimoderatori oleh Indrawati Yudha Asmara, turut menghadirkan Dr. Bambang WHEP sebagai pembicara yang tampil sebagai Ketua I DPD PPSKI Jawa Tengah sekaligus pembahas.

Sejalan dengan yang diungkapkan oleh para narasumber, Indrawati menambahkan, diperlukan informasi mengenai jumlah populasi Sumber Daya Genetik Ternak, agar diketahui berada di posisi aman atau kritis hewan ternak tersebut berada. “Kita dapat menggunakan standar dan kriteria yang dipakai oleh FAO, diantaranya adalah Extinct serta Endangered. Hal tersebut merupakan wujud komitmen jangka panjang, yang dapat dilakukan bersama lintas sektor,” ujarnya. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment