Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-6 “Pengembangan Peternakan Berbasis Sumberdaya Lokal Menuju Kedaulatan Pangan” Tanggal 11 November 2014. .::Workshop “Membangun Sinergitas Kebijakan Peternakan di Jawa Barat” 12 November 2014 Fakultas Peternakan Unpad

Bank Indonesia Dukung Peternakan Melalui KPPE

Written by bayuns on November 8, 2012. Posted in Event

 

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Memasuki hari kedua Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan 4, diselenggarakan Workshop membahas “Konservasi dan Pengembangan Itik Cihateup dan Itik Pajajaran” di Jatinangor, Kamis (08/11). Direktorat Paten Hak Kekayaan Intelektual (HKI) Corrie Naryati SH dalam sambutannya mewakili Dirjen HKI mengatakan terjadi pengambilan keuntungan dari sumber daya genetik secara tidak adil melalui kegiatan ilegal seperti pencurian. “Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah ikut proses ratifikasi protokol Nagoya pada 11 Mei 2011. Sementara di tingkat nasional menyusun rancangan undang-undang tentang pengelolaan sumber daya genetik serta membangun database keaneka ragaman sumber daya genetik,” kata Corrie Naryati.

Pada kesempatan yang sama Harry S Baskoro perwakilan dari Bank Indonesia cabang Bandung menyatakan sektor pertanian dan peternakan menyumbang 13 persen Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Jawa Barat. “Pertanian dan peternakan menyerap tenaga kerja 4 juta pekerja dan memberikan kontribusi 42.14 triliun,” ungkap Harry.

Harry berpendapat, permasalahan pembiayaan khusus bidang peternakan yaitu sering terjadi kredit macet, serta minimnya akses informasi tentang cara mengajukan kredit kepada bank. “Perspektif perbankan terhadap peternakan adalah resiko tinggi, fluktuasi harga, dan rendahnya alokasi kredit,” ujarnya. Namun demikian dunia perbankan tetap menyediakan kebijakan melalui program Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE).

“Melalui KKPE, disediakan dana sebesar 50 juta/petani dengan bunga 5-6 persen melalui bank yang telah ditunjuk diantaranya BRI, BNI, Mandiri, BCA, BJB, Bukopin, Bank Agroniaga. Dalam hal ini keterlibatan pihak perbankan adalah pelatihan terhadap bidang finansial,” kata Harry.

Sementara itu kelompok peternak Itik Cihateup dan Itik Pajajaran menjelaskan kendala yang dihadapi adalah masalah permodalan serta kebutuhan teknologi untuk pembuatan pakan murah.  Terkait pembibitan praktis itik lokal berdasarkan pendekatan pola pembibitan industri menurut Dr. Asep Anang dari Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran tidak menganut pembentukan jenis baru. “Untuk ternak murni karakteristik populasi dipertahankan, sedangkan galur murni diarahkan pada sifat tertentu sesuai keinginan pemulia,” kata Asep Anang.

Workshop yang turut menghadirkan pembicara dari Balitnak Bogor Dr. Ir. Hadi Prasetyo, M. Agr memaparkan, pentingnya sistem produksi yang harus dibangun. Selain itu menurutnya, diperlukan penerapan teknologi meliputi program perbaikan genetis serta pengembangan pembibitan komersial pakan melalui pemanfaatan bahan lokal.

“Yang menjadi tantangan adalah peningkatan kapasitas produksi dan pengembangan sistem produksi yang efisien, dimana peternakan itik sebagai kegiatan ekonomis,” kata Hadi Prasetyo. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment

Kemahasiswaan

Arsip