Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

“Bergesernya Usaha Ternak Tradisional Menuju Skala Industri”

Written by admin on November 3, 2011. Posted in Event

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Dari 556 usulan proposal ke pemerintah daerah Jawa Barat sebagian besar mengajukan usaha peternakan, dimana 67 persen proposal tersebut berisi tentang usaha pemeliharaan hewan ternak domba.

Pernyataan tersebut dikemukakan oleh Ir. Koesmayadi TP Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat pada acara Workshop Nasional dengan pokok bahasan “Pemanfaatan Sumberdaya Genetik Domba Garut yang Berorientasi Bisnis” di Aula Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Kamis (3/11).

“Tentu saja model usaha yang dikembangkan harus dikelola sebagai industri, sekaligus sebagai upaya pelestarian sumberdaya genetik,” kata Koesmayadi.

Ia menjelaskan hambatan utama dalam memasarkan ternak ini adalah adanya anggapan yang berkembang di masyarakat bahwa jika mengkonsumsi daging domba akan meningkatkan kolesterol. “Bayangkan hanya 1,47 persen saja masyarakat Jabar yang mengkonsumsi daging domba karena khawatir masalah ini. Padahal persoalannya terletak pada cara memasak atau menyajikan makanan tersebut,” ujarnya.

Sementara itu praktisi bisnis yang bergerak di bidang peternakan khususnya domba dan kambing, Helma Setiawan, SMB., MEI mengutarakan untuk terjun dalam bisnis ini terkendala masalah rantai distribusi yang terlalu panjang. “Sebagai solusinya didirikan Cimande Farm yang bekerjasama dengan berbagai stakeholder. Sebuah kawasan yang menjadi pusat pelatihan peternakan domba kambing, penjualan bibit, pusat informasi pengelolaan manajemen ternak, serta acuan untuk rumah potong hewan halal khusus domba kambing,” jelasnya.

Terkait upaya meningkatkan potensi domba garut, dosen Fakultas Peternakan Unpad Dr. Ir. Denie Heriyadi, MS mengatakan bahwa melalui Permentan No. 19/2008 telah ditetapkan 20 rumpun ternak. Dan untuk rumpun ternak asal Jawa Barat diantaranya adalah domba garut dan ayam pelung. “Dengan demikian penetapan rumpun atau galur ternak merupakan pengakuan pemerintah terhadap ternak lokal, atau ternak asli di suatu wilayah yang telah dibudidayakan secara turun temurun oleh peternak,” kata Dr. Denie

Ketua HPDKI (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia) Dr. Rachmat Priyatna, MM menambahkan peluang usaha dan kesempatan pasar lokal maupun ekspor masih terbuka lebar. “Kita harus membekali diri dalam usaha ini dengan menjalin komunikasi yang diwujudkan melalui kerjasama antara pemerintah, HPDKI sebagai wadah organisasi, dan perguruan tinggi untuk mendekatkan diri dengan para pakar,” ungkapnya. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment