Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Deptan Inginkan Kurangi Ketergantungan Impor Bahan Baku Pakan

Written by admin on February 19, 2009. Posted in Informasi Umum

Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian berharap industri pakan ternak tidak lagi Impor jagung pada tahun ini. Untuk bahan baku pakan lainnya, Deptan berharap pabrik, pakan bisa mengurangi ketergantungan impornya. Harapan Deptan agar pabrik pakan tidak imporjagung di tahun ini sangat beralasan. Sebab menurut data yang diungkap Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) tahun ini, seluruh pabrik pakan hanya memerlukan jagung sebanyak 4,07 juta ton untuk bahan baku pakan ternak. Sedangkan produksi jagung nasional 2009 diperkirakan mencapai 18,00 juta ton.

Keinginan pemerintah tersebut kata Dirjen Peternakan Tjeppy D Soedjana karena saat ini dunia tengah mengalami krisis ekonomi global sehingga kita tidak lagi bisa menggantungkan bahan baku pakan dari impor. Dia mengungkapkan, pada tahun 2008 kebutuhan jagung untuk pakan 4 juta ton, impornya 4 persen atau sekitar 170 ribu ton. Impor jagung itu jauh menurun bila dibanding pada tahun 2007 sebesar 676 ribu ton.

Data Ditjen Peternakan seperti dibacakan Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Drh Djajadi Gunawan dalam Rapat Koordinasi Pakan, bahan baku pakan ternak yang sudah bisa dipenuhi dari lokal adalah dedak padi, tepung batu, biji batu, bungkil kopra, bungkil sawit dan CPO. “Namun masih ada bahan baku pakan ternak yang seratus persen diimpor yakni bungkil kedelai, rape seed meal, corn gluten meal, calcium phosphate, feed additive dan vitamin,” kata Dirjen Peternakan Tjeppy D Soedjana dalam sambutannya yang dibacakan Djajadi Gunawan.

Dia menyebutkan impor tepung kedelai pada tahun 2008 mencapai 1,53 juta ton. Sedangkan tepung ikan sebagaian sudah bisa dipenuhi produksi dalam negeri sebesar 5-20 persen, namun sisanya masih harus diimpor. Dirjen Peternakan mengatakan masih berat untuk mengurangi ketergantungan kepada bahan baku pakan impor. “Kami mohon pabrik pakan untuk bisa mensubstitusi dengan bahan lain yang diproduksi dari dalam negeri,” pintanya.

Sejauh ini lanjutnya himbauan dari pemerintah ini belum ada kemajuan yang berarti di industri pakan. “Misalnya kita sudah himbau untuk memanfaatkan bungkil inti sawit, kita sudah sosialisasi, tapi belum ada kemajuan yang berarti. Pemerintah akan mendorong dan memfasilitasi dengan pelayanan dan regulasi untuk bisa swasembada bahan baku pakan,” tuturnya. Askam dari GPMT mengatakan industri pakan ternak sudah melakukan banyak inovasi dalam komposisi pakan. Misalnya kini pabrik pakan tidak lagi menggunakan tepung ikan karena harga impornya mahal. Sayangnya penggantinya masih diimpor, yakni MBM (tepung tulang dan jeroan), dengan alasan Indonesia belum bisa memproduksi MBM, karena jeroan di Indonesia pun dikonsumsi manusia.

Soal harapan agar pabrik pakan tidak impor jagung, GPMT sependapat. “GPMT sangat senang sekali pemerintah punya program peningkatan produksi jagung tahun ini mencapai 18 juta ton, yang kita butuhkan hanya 4 juta ton,” kata Askam. Direktur Serealia Ditjen Tanaman Pangan Ir. Siwi Purwanto mengatakan produksi jagung nasional tidak sepanjang waktu, melainkan musiman.

Puncak produksi jagung nasional akan terjadi di bulan Maret – April pertahunnya. Dia berharap ada yang mau menampung produksi jagung tersebut sehingga pabrik pakan bisa memperoleh bahan baku sepanjang tahun dari dalam negeri. Dikatakannya jagung yang digunakan untuk pabrik pakan kebanyakan dari jagung hibrida. Sekitar 50 persen tanaman jagung di Indonesia seluas 4,08 juta ha adalah jagung hibrida. ***

Jakarta, 16 Februari 2009

Sumber: http://www.ditjennak.go.id/berita.asp?id=58

Trackback from your site.

Leave a comment