Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Diky Ramdhani, Ph.D., “Kita Punya Banyak Tanaman Lokal untuk Feed Additive Ternak”

Written by bayuns on October 19, 2015. Posted in Pengabdian Masyarakat

humas-unpad-2015_09_30-EOS-7D-10_25_08-00063624

[Unpad.ac.id, 19/10/2015] Tanaman teh (Camellia sinensis) selama ini dikenal memiliki manfaat yang baik bagi kesehatan tubuh. Namun, selain baik dikonsumsi manusia, teh juga baik untuk meningkatkan performa produksi ternak ruminansia. Hal tersebut telah diteliti dengan baik oleh Diky Ramdhani, S.Pt., M.Anim.St., Ph.D.

Dosen pada Laboratorium Produksi Ternak Potong Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran ini meneliti tentang penggunaan zat bioaktif tanaman lokal sebagai bahan feed additive alami untuk efisiensi produksi ternak ruminansia. Tanaman lokal yang dikaji dalam penelitian tersebut ialah daun teh hijau yang dikenal memiliki kandungan zat bioaktif.

Adapun feed additive merupakan zat khusus yang diberikan dengan dosis yang tidak terlalu banyak kepada ternak namun berpengaruh secara signifikan terhadap kualitas tubuh ternak.

“Sumber daya alam kita mempunyai berbagai jenis tanaman lokal yang mempunyai zat bioaktif tanaman fitofarmaka,” jelas Diky saat diwawancarai Humas Unpad, beberapa waktu lalu.

Sebagai wilayah beriklim tropis, Indonesia memiliki tingkat kelembapan yang tinggi. Tingkat serangan predator sangat rentan terjadi pada tanaman. Oleh karena itu, tanaman harus punya daya tahan tertentu untuk mampu menangkis serangan predator tersebut. Zat bioaktif inilah yang menjadi “senjata” tanaman melawan para predator sekaligus bermanfaat bagi tubuh ternak.

Penelitian tersebut dilakukan dalam rangka meraih gelar Doktor bidang Animal Science di Newcastle University, Inggris. Dalam penelitiannya, Diky menggunakan kadar zat bioaktif tanaman untuk mengganti penggunaan growth promoting antibiotics. Penggunaan growth promoting antibiotics untuk ternak di Eropa sudah dilarang sejak tahun 2003, disebabkan banyaknya kandungan unsur kimia sintetik.

Menurut Diky, penggunaan zat bioaktif alami ini berfungsi mengurangi produksi gas metan dalam rumen ternak ruminansia. Produksi gas metan yang terlalu banyak akan berpotensi membahayakan lingkungan. Fungsi lainnya ialah meningkatkan fungsi by pass protein di dalam saluran pencernaan ternak serta mampu meningkatkan kualitas daging.

“Daripada energi yang masuk ke ternak itu jadi gas metan yang banyak, lebih baik digunakan untuk peningkatan produksi ternak,” jelas Diky.

Sampel penelitiannya ialah mencampur daun teh hijau dengan konsentrat. Menurut Diky, teh kaya akan kandungan polyphenols yang bermanfaat untuk tubuh ternak, termasuk diantaranya mengurangi cacingan. Pemilihan daun teh hijau didasarkan pada kandungan polyphenols teh hijau lebih banyak dari daun teh lainnya. Daun teh tersebut ia datangkan langsung dari Indonesia.

Diky sendiri melakukan penelitiannya melalui tahap in vitro dan in vivo. Pada tahap in vitro, uji penelitian dilakukan di laboratorium dengan menggunakan rumen buatan. Sementara tahap in vivo, sampel diuji langsung kepada ternak ruminansia.

Pada tahap in vivo, Diky mengujikannya pada dua jenis ternak domba, yaitu jenis Texel-cross dan Suffolk-cross. Ia memberi sebanyak 30 gram per hari daun teh hijau kepada tiap-tiap domba tersebut.

Penelitian yang dilakukan dalam kurun waktu 2011 – 2014 menunjukkan hasil yang signifikan. Dari uji sampel, produksi gas metan pada domba yang tidak diberi daun teh hijau sebesar 14,1%, sementara pada domba yang diberi daun teh hijau sebesar 13,1%. Sementara dari sisi berat badan, ukuran rata-rata domba tanpa diberi teh hijau sebesar 34,6 kilogram, tetapi rata rata domba yang diberi daun teh hijau meningkat menjadi 35,3 kilogram.

Dari hasil penelitian tersebut, Diky optimis penelitiannya dapat diaplikasikan pada ternak ruminansia lokal di Indonesia. Saat ini melalui program Academic Leadership Grant (ALG) yang diketuai Prof. Dr. Husmy Yurmiati, Ir., M.S., ia mengembangan penelitian ini kepada ternak ruminansia lokal. Menurutnya, zat bioaktif alami ini sangat penting untuk meningkatkan performa ternak ruminansia di Indonesia.

Keuntungan lain dari penelitian ini ialah mudahnya bahan baku zat bioaktif. Peternak bisa menggunakan daun teh yang tidak terseleksi (non-grade) di pabrik pengolahan teh. Proses ini menurutnya sangat efektif, dimana daun teh yang tidak terseleksi dapat diolah menjadi feed additive sehingga tidak menjadi limbah.

“Daun teh yang tidak diseleksi pabrik memiliki zat bioaktif yang sama. Peternak bisa mendapatkannya dengan harga yang murah,” kata dosen kelahiran Garut, 26 Juni 1982 tersebut.

Karena tanaman fitofarmaka banyak tumbuh di Indonesia, Diky pun berencana akan mengembangkan penelitiannya dengan menguji tanaman lainnya, seperti kunyit dan temulawak. Dengan demikian, ketersediaan zat bioaktif ini sangat mudah didapat. Bahkan, peternak pun bisa menanamnya di sekitar lokasi peternakan sehingga dapat mengurangi biaya pembelian feed additive di pasaran.

“Kalau peternak membeli obat aditif kimia dari pasaran, harganya mahal dan tidak baik untuk ternak. Jika secara alami, ternak akan jauh lebih sehat, produksinya bagus, dan harga obat aditifnya pun murah karena tersedia secara lokal. Mudah-mudahan dapat meningkatkan produksi ternak bagi masyarakat,” ujar Diky.*

Sumber: http://www.unpad.ac.id/profil/diky-ramdhani-ph-d-kita-punya-banyak-tanaman-lokal-untuk-feed-additive-ternak/

Trackback from your site.

Leave a comment