Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, “Terjadi Defisit Telapak Ekologis Untuk Sektor Peternakan”

Written by admin on November 2, 2011. Posted in Event

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Dengan luas dan dukungan sumber daya lahan yang terbatas, tekanan jumlah penduduk yang semakin besar, perlu dikaji populasi ternak meliputi ruminansia dan non-ruminansia agar nilai telapak ekologis tidak lebih besar dibanding biokapasitasnya.

Demikian disampaikan oleh Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Drh. Prabowo Respatiyo Cr, MM, Ph.D dalam Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan III dengan tema “Road to Green Farming” bertempat di Gedung Aula Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Rabu (2/11).

“Untuk wilayah Jakarta saja, defisit telapak ekologis mencapai 13,35 juta global per hektar. Ini berarti masyarakat telah mengeksploitasi sumber daya alam termasuk padang gembala lebih besar dibandingkan kapasitas alam menyediakan pakan ternak,” kata Prabowo Respatiyo.

Menurutnya hal tersebut terjadi juga di banyak negara, akan tetapi dapat diatasi dengan pengambilan kebijakan yang tepat dan penerapan teknologi tepat guna serta ramah lingkungan. “Implementasi kebijakan pembangunan peternakan ramah lingkungan berlandaskan pada tiga asas. Asas kelestarian sumber daya ternak, kedua asas keseimbangan supply demand, dan ketiga asas kemandirian dengan pengurangan impor mencapai 10 persen dan sisanya dipenuhi dari ternal lokal,” ungkapnya.

Sejalan dengan pembahasan Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Ir. Nono Rusono, M.Si dari Direktorat Pangan dan Pertanian Bappenas mengatakan pembangunan peternakan berbasis wilayah dapat menggunakan strategi pendekatan pembangunan yakni pendekatan kawasan, kelembagaan, pendekatan sistem, serta pemberdayaan partisipasi masyarakat. “Hal penting dalam pengembangan kawasan adalah menghindari tumpang tindih kegiatan serta memudahkan pengawasan dan publikasi,” jelasnya.

Ditambahkan oleh Dr. Ir. Benito A Kurnani, Dip.EST mewakili Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran bahwa peran serta lembaga pendidikan tinggi dalam kaitannya mengenai pengembangan peternakan berwawasan ramah lingkungan yaitu meningkatkan efisiensi penggunaan sumber daya, mencari pakan alternatif, mengurangi emisi CO2 dan gas rumah kaca serta membantu upaya pemerataan pendapatan masyarakat dalam pengembangan peternakan.

“Dalam dua tahun terakhir ini, penelitian mahasiswa mengenai pemanfaatan limbah mencapai 34,54 persen. Tesis penggunaan limbah sebesar 7 persen serta disertasi 14 persen,” jelasnya.

Pembicara lainnya yang hadir adalah Prof. Dr. Soebandryio, APU mewakili Puslitbangnak Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Ia menjelaskan pentingnya peranan rumpun domba lokal dalam mendukung ketahanan pangan nasional karena dari segi mutu, jumlah, keamanan dan keterjangkauan tidak perlu diragukan. “Hasil penelitian menunjukkan nilai gizi daging domba dilihat dari kandungan protein, vitamin, dan mineral seimbang dengan daging sapi. Selain itu kadar kolesterol daging domba ternyata lebih rendah dari kadar kolesterol daging sapi,” kata Prof Soebandryio.

Seminar yang dibuka oleh Dekan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran Dr. Ir. Iwan Setiawan DEA lebih jauh menyatakan agar melalui kegiatan ini akan diperoleh banyak manfaat, tidak saja pertukaran informasi antar peneliti, tetapi adanya sinergitas penelitian yang dilakukan oleh perguruan tinggi dan lembaga riset dengan persoalan nyata di masyarakat. “Diharapkan hasil penelitian terkini dari berbagai perguruan tinggi dan institusi riset di seluruh Indonesia bisa terinformasikan dengan tindak lanjut ke arah pemecahan persoalan nyata di masyarakat peternak,” tuturnya. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment