Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Drh I Ketut Diamirta MP: Membangun Manajemen dan Sistem Recording Peternakan Yang Baik

Written by bayuns on November 15, 2017. Posted in Informasi Umum

  

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Republik Indonesia Drh I Ketut Diamirta MP menyatakan, pokok pembicaraan dunia peternakan saat ini adalah unggas dan sapi.  Mengarahkan fokus pada meningkatkan asupan protein hewani masyarakat, artinya tidak berbicara hanya soal daging sapi, tetapi berpikir keanekaragaman ternak di Indonesia. Khusus ternak unggas, berada di posisi over supply bukan lagi swasembada.

Hal tersebut disampaikan I Ketut Diamirta saat menjadi pembicara dalam Seminar Nasional Pengembangan Peternakan Berkelanjutan Ke-9 yang diselenggarakan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran dengan tema “Tantangan Dunia Peternakan Dalam Meningkatkan Nilai Tambah dan Daya Saing Sumber Daya Genetik Ternak Lokal di Bale Sawala Gedung Rektorat Jatinangor, Rabu (15/11/2017).

“Permasalahannya adalah, bagaimana membuat sebuah manajemen dan sistem recording yang baik. Karena ketika over supply kita ribut, begitu juga ketika kurang kita pun ribut. Nah ini seharusnya kita mendapat masukan dari pihak perguruan tinggi seperti Unpad,” ujarnya.

Ia menjelaskan, manajemen peternakan unggas terdiri dari broiler dan unggas lokal. Menurutnya, kedua jenis hewan ternak unggas ini dapat berjalan seiring tanpa ada yang termarjinalisasi.

“Dalam rangka memperbaiki sistem manajemen dan recording, saya libatkan seluruh profesor yang netral, karena bagaimana pun tidak dapat mengambil kebijakan tanpa mendapat masukan yang independen,” jelasnya.

Ketua Umum DPP Himpuli (Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia) Drs. Ade M Zulkarnaen mengungkapkan pentingnya membangun peternakan unggas lokal yang berdaya saing. Karena hal tersebut sejalan dengan amanat Undang-Undang tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan.

“Sesuai dengan pasal 10 ayat 2 yang menyatakan pembudidayaan dan pemuliaan harus mengoptimalkan pemanfaatan keanekaragaman hayati dan pelestarian sumber daya genetik asli di Indonesia, maka pemerintah wajib melindungi usaha pembudidayaan dan pemuliaan hewan ternak” paparnya.

Acara yang dimoderatori oleh Indrawati Yudha Asmara, Ph.D ini turut menghadirkan Dr. Ir. Iwan Setiawan DEA dari Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran yang menjadi pembicara berikutnya memaparkan pengembangan unggas lokal dalam mendukung kemandirian pangan.

“Indonesia dituntut mampu memproduksi aneka ragam pangan dari dalam negeri. Ini untuk menjamin kebutuhan pangan yang cukup sampai tingkat perseorangan,” paparnya.

Ia mengungkapkan, alternatif pengembangan unggas lokal dapat dibentuk melalui usaha keluarga berkelanjutan dan industri berkeadilan dengan tujuan mewujudkan kemandirian pangan. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment