Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

FGD Riset Problem Pengembangan Domba di Jawa Barat

Written by bayuns on September 29, 2016. Posted in Pengabdian Masyarakat

fgd

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Melihat rencana induk riset nasional dan program Jawa Barat khususnya dalam mengembangkan hewan ternak domba, Universitas Padjadjaran selalu concern terhadap masalah ini. Sesuai dengan arahan Presiden Joko Widodo, yang telah menanggapi positif mengenai penyediaan protein hewani bagi masyarakat Indonesia.

“Hal yang perlu disikapi lebih lanjut terutama dari akademisi, bisnis, pemerintahan dan komunitas, adalah membuat rencana bagi pengembangan hewan ternak domba di Jawa Barat baik itu domba Garut maupun domba Padjadjaran,” kata Dekan Fakultas Peternakan Unpad Prof. Dr. Ir. Husmy Yurmiati, MS dalam sambutannya saat membuka Focus Group Discussion dengan tema “Riset Problem Pengembangan Domba di Jawa Barat” yang bertempat di Gedung I lantai II, Kamis (29/9).

Kepala Bidang Produksi Dinas Peternakan Jawa Barat Ir. R. Abdullah Fathul Alim, MP menyatakan bahwa tingkat prevalensi di Jawa Barat 1,4 persen sedangkan untuk nasional rata-rata prevalensi mencapai 3 persen.

“Itu merupakan korelasi tinggi terhadap populasi ternak domba di Jawa Barat. Dimana rata-rata nasional dibawah 5 persen. Sementara Jawa Barat perkembangannya bisa mencapai 9 persen,” ujar Abdullah Fathul Alim.

Ia memaparkan, Dinas Peternakan Jawa Barat kedepannya akan mengembangkan hewan ternak kambing dengan membentuk Unit Pelaksana Teknis (UPT) meliputi jenis kambing perah atau kambing pedaging.

“Tapi untuk sementara akan difokuskan kepada kambing perah, sehingga diharapkan akan meningkatkan kontribusi persusuan di Indonesia,” ujarnya.

Sementara itu dari kalangan bisnis yang diwakili oleh Ir. Yudi Guntara Noor mengungkapkan, keberpihakan pemerintah terhadap hewan ternak domba masih kurang apabila dibandingkan ternak sapi yang menjadi primadona sebagai sumber protein hewani selain unggas.

“Kita akan coba mencarikan jalan keluar untuk pemerintah, bagaimana mengalihkan isu daging sapi ini dengan daging alternatif. Apalagi kalau melihat trend secara global, kecukupan protein hewani tidak hanya terbatas pada ayam atau telur, tetapi suatu saat akan ada rasa daging berbasis belalang. Hal ini disebabkan dunia ini tidak akan cukup memproduksi sumber protein dengan sumber daya yang ada. Baik lahan, air maupun sisi produktivitasnya,” paparnya.

Yudi menambahkan, pertumbuhan yang akan kita lihat ke depan adalah pertumbuhan kelas menengah. Hal tersebut yang menyebabkan demand daging merah. Padahal daging merah ini adalah daging yang paling tidak efisien dibanding unggas dan yang lainnya. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment