Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Jadi Indikasi Ketidaksungguhan PSDS 2010

Written by admin on February 19, 2009. Posted in Informasi Umum

Mencuatnya kembali niatan pemerintah untuk mengimpor daging sapi dari Brasil, menjadi sesuatu hal yang sangat menarik untuk dicermati.

Oleh : Cecep Hidayat

Dan tidak heran, bila dalam menyikapi rencana ini, beragam reaksi pun muncul dari para stakeholder (pemangku kepentingan) insan peternakan Indonesia.
Alasan yang mengemuka adalah untuk mendapatkan harga yang jauh lebih murah, kabarnya bisa sampai 60 % dari harga daging sapi asal Australia dan New Zealand, negara selama ini menjadi pemasok utama. Dengan kata lain mengurangi ketergantungan terhadap dua negara tersebut. Dan nama Brasil disebut-sebut dipilih pemerintah sebagai alternatif untuk membuka keran impor dari negara lain. Munculnya nama Brasil tentu bukan asal sembarang adanya, negara yang terkenal sebagai pusat ‘pembibitan” bintang sepak bola dunia ini, telah eksis sebagai salah satu eksportir dan negara dengan populasi ternak sapi potong terbesar di dunia.
Tetapi menjadi masalah dan menuai kritik bahkan penolakan keras dari sebagian stakeholder peternakan Indonesia, karena faktanya secara negara/country Brasil belum sepenuhnya bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta penyakit Sapi Gila. Sehingga “lampu merah” pun dinyalakan terhadap rencana ini. Dua penyakit tersebut masih dikategorikan jenis penyakit yang mudah menyebar antar ternak, bahkan dapat menjangkiti serta membahayakan bagi manusia yang mengkonsumsinya.

Indikasi Ketidaksungguhan PSDS 2010
Isu impor daging sapi dari Brasil ini cukup membuat geger dunia peternakan Indonesia, bahkan belakangan mengalahkan informasi tentang pencapaian pemerintah dalam mengejar target Swasembada Daging Sapi di 2010 (PSDS 2010). Sebuah program yang telah di canangkan sejak 1995.
Niatan penambahan daftar negara pengimpor daging sapi bila tidak dijelaskan secara tepat, dapat membentuk opini sebagai upaya penambahan nilai volume impor. Yang berarti pula sebagai indikasi ketidaksungguhan pemerintah dalam mensukseskan PSDS 2010. Karena itu diperlukan netralisasi dan kejelasan informasi secara bernas dari pemerintah agar isu itu tidak terus bergulir yang berpotensi menimbulkan kehawatiran serta kegelisahan para peternak rakyat, pihak yang selama ini banyak berharap menjadi yang paling diuntungkan dari PSDS 2010.
Pergantian tahun untuk sampai di 2010 sudah di depan mata, hanya dalam hitungan bulan. Target pemerintah menghentikan impor daging sapi secara bertahap dimulai dengan maksimal impor daging sapi 10 % dari kebutuhan domestik di 2010, bukanlah pekerjaan yang mudah. Bila saat ini pasokan domestik terhadap kebutuhan dalam negeri mencapai 72 % maka dalam jangka waktu satu tahun ke depan, produksi dalam negeri harus dapat meningkat setidaknya 18 % dari kebutuhan nasional.
Berdasarkan data dari ditjen peternakan, untuk menutupi 90% dari kebutuhan daging sapi nasional, dibutuhkan pasokan 14,04 juta ekor sapi potong, atau setara dengan daging sapi sebanyak 481 ribu ton dalam setahun. Maka untuk menutupi kekurangan dari kebutuhan itu, maka diperlukan pasokan 2,808 juta ekor sapi potong atau 96,2 ribu ton produksi daging sapi. Sebuah tantangan besar yang harus dipenuhi hanya dalam periode kurang dari satu tahun ke depan.

“Pejuang” yang Mesti Diapresiasi
Di balik kebijakan PSDS 2010, sebenarnya ada sebuah niatan mulia pemerintah, yang melebihi sekedar mewujudkan “mimpinya” untuk memupus ketergantungan diri dari negara luar. Niatan mulia itu tercantum jelas dalam sasaran utama yang tertulis dalam dasar kebijakan: untuk meningkatkan kesejahteraan hidup peternak agar setara bahkan melebihi upah minimum regional. Perlu dicatat, bahwa saat ini terdapat lebih dari 4.980.302 rumah tangga peternak, dengan 58% diantaranya atau 2.888.575 merupakan rumah tangga peternak sapi potong.
Landasan kebijakan dan rencana tindak yang berpihak kepada peternak rakyat merupakan strategi jitu bila ingin PSDS 2010-nya mewujud. Diakui atau tidak, para peternak rakyat merupakan tulang punggung utama yang bisa mensukseskan harapan pemerintah untuk Swasembada Daging Sapi. Kesabaran dan loyalitas pengabdian mereka selama ini sangat perlu diapresiasi. Ketika daging sapi impor menyerbu pasar dengan harga yang lebih murah, invasi harga miring daging ilegal, serta kehadiran tragedi melambungnya harga pakan, para peternak ini tetap bertahan, meski dalam kondisi seperti itu, mereka sangat sulit untuk bersaing. Karena itu, untuk menjaga hati, perasaan, juga harapan dan kepercayaan “pejuang” ini, kontroversi isu penambahan impor daging sapi perlu segera di “peti es” kan.

Menarik Pelajaran
Kita perlu bercermin dari sikap positif pemerintah Amerika yang memberikan subsidi sampai 30% kepada para peternak, yang dampaknya membuat peternak di sana bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Konsumen Amerika, walaupun disuguhi daging impor tetap memilih daging produk dalam negeri, tentunya dengan alasan pilihan harga yang lebih murah. Insentif ini membuat peternak di sana mampu bersaing menguasai pasar domestik, dan pastinya kondisi ini memberikan korelasi positif pada peningkatan kesejahteraan hidup peternak.
Belajar juga kepada kesuksesan program Swasembada Beras di era 1980-an, saat Indonesia selain mampu mencukupi kebutuhannya sendiri juga berhasil mengekspor beras ke beberapa negara lain. Kunci sukses pencapaian prestasi itu sangat ditentukan oleh peran 10 juta lebih petani yang bersemangat menanami sawahnya dengan padi.
Berguru dari hal itu, untuk bisa mencapai Swasembada Daging Sapi, pemerintah kiranya harus berupaya untuk selalu menjamin keberpihakan kepada peternak, sehingga dapat menjaga dan merangsang peternak untuk terus “bermain” dalam usaha ini. Serta merangsang para petani untuk mengintegrasikan pertaniannya dengan peternakan, memaksimalkan dan memperbaharui strategi-strategi yang telah dibuat selama ini dalam menciptakan kelompok-kelompok peternak yang baru, pula mengkampanyekan usaha agribisnis peternakan sapi potong ke khalayak umum, sehingga menjadi pengundang bagi investor dan pengusaha untuk tertarik ikut bermain dalam jenis usaha ini.
Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Februari 2009

Sumber: www.trobos.com

Trackback from your site.

Leave a comment