Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Menjadikan Susu Segar Sebagai Komoditas Pangan Strategis

Written by bayuns on November 16, 2017. Posted in Informasi Umum

  

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Melihat kondisi persusuan nasional saat ini, Indonesia memiliki populasi sapi perah sebanyak 533 ribu ekor, dimana jumlah sapi laktasi 267 ribu ekor dengan kapasitas produksi 912.735 ton susu segar. Distribusi produksi tersebut 99 persen di pulau Jawa, Sumatera dan Sulawesi masing-masing 0,34 persen, Kalimantan 0.10 persen, Bali, NTT dan NTB sebesar 0,02 persen.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ir. Herdy Sartono mewakili Direktorat Perbibitan dan Produksi Ternak Kementerian Pertanian Republik Indonesia pada rangkaian acara Workshop “PEMBANGUNAN AGRIBISNIS SAPI PERAH DI INDONESIA: Peranan Riset untuk Pembuatan Kebijakan” yang diselenggarakan Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran sekaligus hari terakhir dari rangkaian acara seminar nasional yang bertempat di Bale Rucita Gedung Rektorat Jatinangor, Kamis (16/11/2017).

Menurutnya, produksi Susu Segar Dalam Negeri (SSDN) sebagian besar digunakan oleh Industri Pengelola Susu (IPS) yang mencapai 80 persen. Sementara sisanya diserap oleh industri susu non IPS, kebutuhan pedet dan konsumsi langsung.

“Produksi SSDN hanya mampu memenuhi 21 persen kebutuhan nasional, dan sisanya diimpor sebanyak 2,95 juta ton atau 80 persen setara susu segar,” ujar Herdy.

Untuk mengatasi masalah tersebut, pemerintah menumbuhkan minat dan peluang usaha agribisnis persusuan serta membuat usaha agribisnis susu di daerah perbatasan tertinggal dan pulau-pulau kecil sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

Ir. Efi Lutfillah Corporate Relationship Manager PT Frisian Flag Indonesia menjelaskan pola hubungan usaha peternakan. Dalam pola ini selain jual beli, juga terdapat pembinaan dan transparansi antara industri, koperasi dan peternak.

“Peternak diberikan teknis atau manajemen peternakan, penanganan susu segar, kesehatan hewan dan inseminasi,” ujarnya.

Untuk meningkatkan kualitas susu di tingkat peternak, Efi Lutfillah mengatakan tidak boleh memandikan hewan ternak sapi dekat waktu perah (pemerahan kering). Kemudian memperpendek atau mempercepat jalur distribusi.

Sekretaris Koperasi Peternak Bandung Selatan KPBS Ir. Adang Salahuddin menyatakan peternakan di Indonesia pada umumnya kepemilikan sapi perah masih rendah yakni terbatas pada 3-4 ekor. Dimana 65 persen peternak tidak memiliki lahan. Selanjutnya, produktivitas yang masih rendah berkisar 10-12 liter/ekor/hari.

“Sebagai langkah meningkatkan minat agribisnis sapi perah dikalangan generasi muda, pengelolaannya harus mudah dan ekonomis melalui pakan, kandang, dan penggunaan mesin perah,” tuturnya. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment