Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Pemakaian Biogas Hemat Penggunaan Listrik 50%

Written by admin on February 12, 2009. Posted in Informasi Umum

BANDUNG, (PR).-
Selama 2008, pemanfaatan sumber energi alternatif biogas dari ternak hewan mampu mengurangi biaya pemakaian listrik sebesar 50% atau sekitar Rp 46.214,00 per kepala keluarga (KK) per bulan.

“Sementara dari sisi negara dapat menghemat biaya operasi kelistrikan per bulan untuk setiap KK menjadi Rp 250.425,00,” ujar Adang Djarkasih, Deputi Manager Komunikasi Perusahaan Listrik Negara Distribusi Jawa Barat dan Banten (PLN DJBB) ketika ditemui di kantornya, Rabu (11/2).

Penggunaan energi alternatif yang telah dirintis sejak empat tahun yang lalu ini telah diterapkan di beberapa daerah di Jabar seperti Parongpong, Cililin, serta Desa Energi Mandiri Haurngombong Kec. Pamulihan Kab. Sumedang.

Menurut Adang, setengah dari penduduk Desa Haurngombong telah memakai biogas sebagai langkah penghematan yang juga ramah lingkungan.

“Desa percontohan tersebut merupakan bagian dari program CSR kami mengenai penghematan energi. Dan tahun ini, target kami selanjutnya adalah membuat desa energi mandiri lainnya di beberapa desa potensial seperti Cidaun (Cianjur Selatan) serta Pangalengan,” tuturnya.

Keuntungan dari biogas ini, katanya selain menjadikan desa bersih dari kotoran ternak, juga menghemat energi seperti listrik, elpiji, bahkan minyak. Seperti diketahui untuk 1 meter kubik biogas setara dengan 1,75 kWh listrik, 0,46 kg elpiji, dan 0,62 liter minyak.

Di Haurngombong, lanjutnya, satu genset dapat disuplai oleh kotoran dari dua ekor sapi perah. Dalam kondisi normal, dari dua ekor sapi dapat menghasilkan kotoran sebanyak 4,14 meter kubik dan hasil energinya dapat dinikmati oleh tiga rumah tangga. Sementara itu, biaya operasional biogas (di luar sapi) bisa mencapai sekitar Rp 700.000,00 untuk satu rumah tangga.

“Pada awalnya, sapi-sapi yang ada di Desa Haurngombong adalah milik warga. Namun setelah ada program Desa Energi Mandiri, kini sekitar 200 ekor sapi di Haurngombong telah dimanfaatkan menjadi biogas yang beberapa ekornya merupakan bantuan dari pihak lain.

Kami berharap ke depannya daerah lain bisa mengikuti Haurngombong setelah mendapat stimulan dari PLN yang berupa genset dengan kapasitas rata-rata 500 watt,” kata Adang.

Program Desa Energi Mandiri ini, ujar Adang, juga termasuk ke dalam program “Jabar Caang 2010”. Hingga akhir 2008, tingkat elektrifikasi desa-desa di Jabar dan Banten telah mencapai 64,43 % atau meningkat sekitar 15 % dari tahun 2007.

“Sekarang ini masih tersisa sembilan desa di Jabar dan Banten yang belum tersentuh listrik. Karena keterbatasan anggaran, target kami untuk menyediakan listrik setidaknya listrik untuk koneksi antardesa, baru direncanakan rampung tahun 2010 nanti,” ungkap Adang.

Sementara itu, target Desa Energi Mandiri selanjutnya yaitu Desa Mekarwangi, Kec. Cidaun, Kab. Cianjur. Sebanyak tiga kampung di dalamnya belum terjangkau jaringan listrik, padahal populasi ternak sapi potongnya mencapai 500 ekor.

“Sedangkan ragam jenis mata pencaharian penduduknya antara lain petani/peternak, nelayan, buruh, serta PNS. Maka dari itu, ketersediaan listrik dapat membantu kelancaran kinerja dan bahkan meningkatkan kelayakan hidup masyarakat di sana.

“Hasil observasi tersebut merupakan kerja sama antara PLN dan Unpad. Setelah dilakukan dialog bersama, tokoh masyarakat di sana serta peternak menghendaki segera diadakannya introduksi teknologi biogas untuk bahan bakar dan terutama untuk listrik,” tutur Adang. (A-176)***

Sumber: http://newspaper.pikiran-rakyat.com/prprint.php?mib=beritadetail&id=58715

Trackback from your site.

Leave a comment