Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-6 “Pengembangan Peternakan Berbasis Sumberdaya Lokal Menuju Kedaulatan Pangan” Tanggal 18 November 2014. .::Workshop “Membangun Sinergitas Kebijakan Peternakan di Jawa Barat” 19 November 2014 Fakultas Peternakan Unpad

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SAPI PERAH: TINJAUAN GENETIK DAN PENYAKIT

Written by admin on May 17, 2010. Posted in Informasi Umum

Perkembangan  agribisnis sapi perah dari waktu ke waktu seolah berjalan di tempat apabila ditinjau dari kemampuan memasok susu terhadap kebutuhan masyarakat Indonesia, demikian pula ditinjau dari skala kepemilikan di tingkat peternak yang tidak bergeming dari 2-3 ekor. Belum lagi jika ditinjau dari aspek produktivitas sapi perah yang dipelihara di tingkat peternak, jika rata-rata antara produksi dengan populasi sapi laktasi maka produksi tidak pernah lebih dari 12 liter/ekor/hari, bahkan berkecenderungan kian menurun.

Penggunaan straw pejantan untuk IB sudah bukan merupakan hal yang baru, bahkan kini dapat dipilih straw untuk mendapatkan keturunan berjeniskelamin tertentu. Untuk bidang sapi perah, maka yang diperlukan adalah keturunan berjenis kelamin betina.Teknologi IB menjadi andalan utama dalam usaha sapi perah, terutama di peternakan sapi perah rakyat, dikarenakan mahalnya biaya pemeliharaan sapi pejantan.Permasalahan yang muncul dalam penggunaan teknologi IB antara lain:

pertama, dari setiap pejantan yang dipelihara di BIB/BBIB, sebagai produsen straw, dihasilkan sejumlah banyak straw yang dapat digunakan pada betina-betina sapi perah yang berahi. Penggunaan salah satu pejantan dengan jumlah dan jangka waktu yang kurang tepat, diikuti dengan kurangnya kontrol keturunan (silsilah), akibat rendahnya aplikasi system pencatatan, menyebabkan angka inbreeding yang melebihi batas toleransi, yang berdampak pada menurunnya produktivitas dan munculnya sifat-sifat negatif yang tidak dapat dikontrol. Diperlukan suatu regulasi dan control yang kuat terhadap distribusi straw semen pejantan diproduksi oleh BIB/BBIB atau pun dari straw impor, yang dilakukan oleh lembaga independen dan mempunyai akses untuk mengatur distribusi straw tersebut;

kedua, di lapangan harga pedet jantan sapi perah lebih mahal dari pada pedet betinanya, sehingga peternak lebih menyukai keturunan berjenis kelamin jantan. Hal ini terjadi karena kebutuhan bibit untuk sapi pedaging yang kian meningkat, apalagi jika dikaitkan dengan swasembada daging sapi yang telah dicanangkan pemerintah. Masalah lebih besar muncul pada saat peternak lebih memilih menggunakan straw pejantan sapi pedaging dalam pelaksanaan IB pada sapi perahnya, dan petugas IB memfasilitasinya. Jika yang dilahirkan betina, maka jelas performa sapi perahnya tereduksi  oleh adanya darah sapi pedaging di dalamnya.

ketiga, adanya penolakan penggunaan straw dari salah satu pejantan yang ditawarkan BIB/BBIB oleh koperasi/kelompok/peternak dengan alasan tertentu, menunjukkan adanya masalah pada penggunaan straw pejantan tersebut. Munculnya perbedaan kualitas straw, menurut pandangan stakeholder, baik ditinjau dari aspek reproduksi maupun dari aspek produksi (dalam hal ini genetik), perlu ditanggap isecara serius oleh produsen (BIB/ BBIB), dengan melakukan pengujian terhadap mutu straw yang dihasilkan, dan agar hasilnya lebih diakui pengujian dilakukan oleh lembaga independen yang kompeten. Selanjutnya, BIB/BBIB hanya mengeluarkan straw-straw daripejantan yang berhasil lulus dari hasil pengujian tersebut.

Kendala utam adalam usaha peternakan sapi perah adalah pencegahan dan pengendalian penyakit mastitis, penyakit pada putting/ambing yang mampu menekan produktivitas sapi perah hingga 30-50% dari potensi yang dimilikinya. Seluruh peneliti dan pelaksana lapangan di bidang sapi perah, sepakat memberikan saran yang sama, yakni lakukan pencegahan sebelum penyakit mastitis ini menyerang pada putting/ambing sapi perah. Dampak dari penyakit inia dalah menurunnya produksi susu dari sapi yang diserangnya, dan meningkatnya jumlah mikroorganisme dalam susu.  Sehingga, sangat menghancurkan tingkat pendapatan peternak,  jumlah susu yang dihasilkan lebih rendah dan harga susu yang diterima juga lebih rendah dari kondisi normal.

Sapi perah yang sudah terserang dapat diobati, namun, biaya pengobatan tersebut relatif mahal dan performa produksinya tidak dapat kembal iseperti semula. Kondisi ini menyebab-kan pilihan peternak jika sapi perahnya positif mastitis adalah menjual dan menggantinya dengan sapi yang baru. Menjual sapi afkir dan membeli sapi bibi t memerlukan biaya investasi yang cukup tinggi,  di samping itu, kualitas sapi perah penggant itersebut tidak ada jaminan mampu berproduksi sesuai dengan harapan.

Oleh karena itu, diperlukan langkah-langkah konkrit yang sederhana dan dapat dilakukan di tingkat peternakan sapi perah rakyat, penerapan suatu teknologi yang secara signifikan dapat mencegah mastitis sekaligus mempertahankan produktivitas sapi perah.

Oleh karena itu, kami panitia gabungan GKSI, PPSKI, Dewan PersusuanNasional, Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, JICA Indonesia, dan FakultasPeternakan UNPAD, berinisiatif melaksanakan workshop nasional, untuk mendapatkan simpul-simpul permasalahan, solusi pemecahan masalah, dan skalaprioritas dalam upaya meningkatkan produktivitas sapi perah, khususnya ditinjau dari aspek genetik dan penyakit.

Workshop Nasional dengan tema peningkatan produktivitas sapiperah khususnya ditinjau dari aspek genetic dan penyakit, akan dilaksanakan pada hari Rabu, tanggal 19 Mei 2010, di Aula Gedung 5 Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran,  Kampus UNPAD Jatinangor.

Trackback from your site.

Leave a comment