Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Perguruan Tinggi Membangun Desa: Kampung Mandiri Energi Berbasis Biogas

Written by admin on April 30, 2010. Posted in Informasi Umum

Artikel ini telah dimuat di Majalah PETANI, Maret 2010

Perguruan Tinggi Membangun Desa:

Kampung Mandiri Energi Berbasis Biogas

Oleh: Cecep Firmansyah

“Ya…bener biogas bisa ngahurungkeun genset (betul biogas bisa menyalakan genset),” ungkap Karman kegirangan. Ketika sore hari instalasi listrik biogas dioperasikan, seluruh penduduk spontan berteriak, “Caang euy…(terang euy).”

Teriakan warga yang heran sekaligus gembira memeriahkan terangnya malam Kampung Belenung. Terisolirnya kampung di pesisir pantai selatan Cianjur, Jawa Barat ini membuat warganya tidak terlayani listrik dari PLN.

Karman, warga Kampung Belenung, selama ini memakai minyak tanah dan kayu bakar untuk kebutuhan dapur dan listrik tenaga surya. Awal sosialisasi biogas, ia tidak percaya kotoran sapi bisa jadi sumber energy. “Masak kotoran sapi bisa jadi listrik,” ujar Karman tidak percaya. Namun, ia tetap mengikuti kegiatan pengembangan biogas di kampungnya dengan harapan dapat menggunakan listrik dari kotoran sapi. Ternyata, setelah seluruh instalasi terbangun dan terpelihara, tabung gas makin hari makin kembung berisi gas.

Kampung Peternak Kaya Energi

Belenung terletak di Desa Mekarsari, Kecamatan Agabinta, Kabupaten Cianjur. Akses menuju kampung ini cukup sulit. Hanya dapat dijangkau dengan sepeda motor menyusuri tepi pantai atau menyebrang menggunakan eretan (rakit dari bambu). Karena lokasinya, kampung ini tidak mendapatkan layanan listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN). Selama ini penerangan memakai tenaga surya. Namun tak semua warga mampu beli. Ada yang masih memakai lampu minyak tanah.

Mata pencaharian sebagian besar warga Belenung adalah beternak sapi, bercocok tanam padi dan palawija. Sapi potong dipelihara ekstensif. Setiap hari peternak menggembalakan sapinya di hutan-hutan dengan jarak tempuh puluhan kilometer. Aktivitas serupa juga dilakukan Karman. Kegiatan peternakan merupakan tulang punggung ekonomi rumah tangganya, selain menanam padi. Dua belas ekor sapi potong yang dipeliharanya adalah milik pribadi yang berasal dari pembelian dan hasil keturunan dari sapi-sapi betina yang dipelihara sebelumnya.

Kotoran ternak selama ini tidak dimanfaatkan dan terbuang percuma di lokasi-lokasi penggembalaan. Melihat potensi kampung ini, pada 15 November 2009, Livestock Bioenergy Conversion Program (LiBEC) Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran (Unpad), bekerja sama dengan PLN mengajak warga—khususnya peternak—untuk memanfaatkan kotoran ternak yang tersia-siakan. Dengan dampingan dari pelaksana LiBEC, para peternak mengolah kotoran ternak menjadi biogas.

Sebelumnya, LiBEC sudah mengembangkan biogas di desa lain di Jawa Barat, yaitu Desa Haurngombong di Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, dan Kampung Cihurang, Desa Cijayana, Kecamatan Mekarmukti, Kabupaten Garut. Biogas ini dimanfaatkan warga di tiga desa itu untuk menyalakan kompor dan penerangan rumah, kampung serta kandang ternak. Kini 90 persen rumah penduduk Kampung Belenung sudah diterangi listrik biogas.

Biogas: Sumber Energi Melimpah yang Ramah Lingkungan

Pengembangan biogas membawa berkah kehidupan masyarakat yang lebih baik. Telah tercipta peternakan ramah lingkungan, berkurangnya penebangan pohon untuk kayu bakar, meningkatnya sanitasi lingkungan, berkurangnya cemaran air oleh bakteri E.Coli, dan kehidupan ekonomi masyarakat yang lebih efisien. Pengembangan biogas juga mengurangi efek gas rumah kaca melalui dua sisi, yaitu berkurangnya penggunaan minyak tanah dan penebangan kayu, serta berubahnya metana dari limbah ternak menjadi karbondioksida dan air. Pengaruh metana terhadap efek gas rumah kaca lebih besar 20-23 kali lipat lebih tinggi dibandingkan karbondioksida. Secara keuangan, biogas menghemat biaya rumah tangga untuk bahan bakar.

Pemanfaatan biogas kotoran ternak untuk sumber energi sepantasnya menjadi pilihan di tengah krisis energi yang terjadi kini. Berdasarkan pengamatan lapangan yang berhasil diidentifikasi, 2 ekor sapi perah dewasa (yang masing-masing berbobot hidup 1.000 pon atau 453, 6 kg, yang artinya sama dengan 1 satuan ternak) mampu menghasilkan 4,14 m3 biogas per hari atau setara dengan 2,57 liter minyak tanah. Satu meter kubik biogas setara dengan 0.62 liter minyak tanah. Dengan asumsi harga minyak tanah tanpa subsidi Rp. 8.000 per lite, maka nilai yang dihasilkan sebesar Rp. 20.560 per hari.

Besarnya nilai potensi ini harus menjadi perhatian semua pihak, karena ada potensi energi lokal di tingkat masyarakat dengan nilai yang sangat besar terbuang tanpa atau kurang disadari. Implementasi pemanfaatan kotoran ternak sebagai biogas secara massal dalam konteks makro akan mampu menyediakan energi baru dan terbarukan dalam jumlah yang besar serta murah untuk masyarakat.

Cecep Firmansyah
Staf Pengajar Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran
Jl. Raya Bandung Sumedang Km. 21 Jatinangor, Sumedang, Jawa Barat
Telp: 08156143144
Email: cepfirmansyah@gmail.com

Sumber: Majalah Petani, Maret 2010 (Info & Teknologi Hal 26-27)

Trackback from your site.

Leave a comment