Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

PERUMUSAN HASIL WORKSHOP NASIONAL PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SAPI PERAH: TINJAUAN GENETIK DAN PENYAKIT

Written by admin on June 2, 2010. Posted in Informasi Umum

UNIVERSITAS PADJADJARAN, 19 MEI 2010

Diselenggarakan oleh:

GKSI, JICA, DPN, PPSKI, DISNAK JABAR, FAPET UNPAD. ISU-ISU STRATEGIS, PERBAIKAN MUTU GENETIK, IMPOR SAPI PERAH, PENANGANAN MASTITIS, REKOMENDASI

ISU-ISU STRATEGIS

(1)  Produktivitas sapi perah nasional mengalami stagnasi, rata-rata produksi susu berkisar antara 8-12 liter per hari, skala pemeliharaan per KK peternak 2-3 ekor induk.

(2)  Kualitas susu (berdasarkan jumlah mikroba susu) secara umum masih belum mampu mencapai standar mutu (SNI).

(3)  Keberhasilan dalam peningkatan produktivitas sapi perah nasional, akan memberikan implikasi yang luas terhadap:

a.  Penyediaan protein hewani sebagai sumber pangan bermutu masyarakat Indonesia

b.  Daya saing peternak sapi perah lokal

c.  Pendapatan peternak sapi perah

d.  Substitusi impor susu, sehingga menghemat devisa

(4)  Peningkatan mutu genetik sapi perah lokal terkait aspek-aspek:

a.  Kelembagaan perbibitan (BBIB, BIB, BIBD dan BBPTU)

b.  Pelayanan dan kelembagaan Inseminasi Buatan

c.  Pengendalian penyakit reproduksi (khususnya Brucellosis)

d.  Progam uji Zuriat/Performance Test

e.  Kredit Usaha Perbibitan Sapi Perah (KUPS)

  1. Pengadaan semen beku dan embrio impor

(5)  Pengendalian dan penanganan mastitis secara terprogram diperkirakan dapat meningkatkan produktivitas sapi perah sampai 10%,  tanpa perlu menambah populasi.

(6)  Ditengah  makin terbatasnya sumberdaya pakan di sejumlah sentra produksi, kebijakan peningkatan produksi melalui penambahan populasi dihadapkan pada kendala daya dukung wilayah.

PERBAIKAN MUTU GENETIK

(1)  Peningkatan mutu bibit sapi perah memerlukan dukungan:

Bidang onfarm:

  1. Recording yang terintegrasi dengan program peningkatan mutu bibit.
  2. Good dairying practice (feeding, manajemen, kesehatan hewan dan reproduksi)

Bidang Off farm:

  1. Sertifikasi bibit sapi perah
  2. Riset dan Pengembangan di bidang pemuliaan dan teknologi reproduksi
  3. Peranan pemerintah (sebagai fasilitator, regulator).

(2)  Program peningkatan mutu genetik melalui dairy herd improvement program belum dilaksanakan pada tingkat lapangan (peternak dan koperasi)

(3)  Perbaikan mutu bibit ternak harus dilakukan melalui program seleksi dan sistem perkawinan (yang mengarah ke pemurnian) dalam rangka meningkatkan rata-rata produktivitas sapi perah. Parameter yang perlu diperhatikan dalam seleksi sapi perah bibit, yaitu: (a) berat lahir, (b) berat sapih, (c) produksi susu, dan (d) service per conception.

IMPOR SAPI PERAH

(1)  Impor sapi perah didorong oleh situasi:

  1. Ketersediaan bibit sapi perah lokal belum dapat memenuhi kebutuhan baik secara kuantitas maupun kualitas.
  2. Peternak anggota koperasi tidak dapat diandalkan untuk menyediakan bibit sapi perah bermutu.

(2)  Kendala impor sapi perah:

  1. Harga relatif mahal
  2. Memerlukan adaptasi cukup lama (1-2 tahun)
  3. Sistem pemeliharaan harus memenuhi standar
  4. Investasi relatif tinggi

(3)  Importasi sapi perah memerlukan kesiapan sumberdaya manusia, teknologi dan investasi. Pada saat ini baru dapat dilakukan oleh perusahaan swasta, atau mereka bekerja sama dengan koperasi susu.

PENANGANAN MASTITIS

(1)  Di Indonesia:  65-85% sapi perah terserang mastitis subklinis dan berpotensi menjadi klinis. Dampaknya produksi dan kualitas susu menurun.

(2)  Kerugian secara ekonomis penyakit mastitis disebabkan karena kualitas susu sapi terinveksi mastitis menurun dan harga jual susu rendah.

(3)  Implementasi dari cara pemerahan yang benar (good milking and milk hygiene practices) pada peternakan sapi perah rakyat masih rendah.

(4)  Dukungan uji laboratorium dalam identifikasi bakteri penyebab mastitis belum memadai

(5)  Perlu pengontrolan dan pengujian jumlah sel somatik terhadap susu segar untuk menekan prevalensi mastitis subklinis.

REKOMENDASI

  1. A. Perbaikan Mutu Bibit

(1)  Perbaikan mutu bibit sapi perah memerlukan penyelesaian berskala luas (lintas disiplin, melibatkan berbagai kepentingan), dalam pendekatannya memerlukan suatu gerakan nasional yang didukung oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah, industri/swasta, asosiasi, koperasi, penyuluh dan peternak.

(2)  Program peningkatan mutu bibit sapi perah secara nasional memerlukan dukungan kebijakan:

  1. Penguatan kelembagaan (BBIB, BIB, BIBD dan BBPTU)
  2. Pengorganisasian program dan pengendalian hasil Inseminasi Buatan
  3. Pengendalian penyakit reproduksi, khususnya Brucellosis.
  4. Progam uji Zuriat/Performance Test yang berkesinambungan
  5. Program kredit usaha perbibitan sapi perah (KUPS) dengan nilai pinjaman yang memadai serta mudah diakses oleh peternak/debitur.

(3)  Peternak perlu diberdayakan/ditingkatkan  pengetahuan  dan keterampilannya dalam peningkatan mutu bibit (seleksi), mereka perlu difasilitasi dalam hal:

  1. Data recording yang terintegrasi dengan program breeding
  2. Pedoman teknis pemeliharaan pedet
  3. Penguatan komitmen dan sistem data recording yang melibatkan seluruh pihak terkait/kompeten: Pemerintah, IPS, asosiasi, koperasi, peternak.
  4. Pengembangan lembaga/unit khusus breeding yang menangani sapi perah bibit di tingkat koperasi yang difasilitasi dan insentif dari pemerintah

(4)  Petugas teknis lapangan harus dilibatkan (dalam koordinasi) dan menjadi bagian dalam  program peningkatan mutu bibit

(5)  Dalam rangka pengembangan mutu bibit sapi perah lokal perlu ada implementasi dan target-target yang terukur. Dalam jangka pendek (3 tahun) harus tersedia baseline data :

  1. Teridentifikasi data produksi susu individu sapi perah terseleksi (secara berkala dengan interval bulanan).
  2. Pemetaan penggunaan pejantan di seluruh wilayah kerja koperasi (data akseptor, waktu penggunaan, insiminator, keberhasilan).

(6)  Terbentuknya bangsa Sapi Perah Holstein Indonesia harus menjadi target  jangka panjang sebagai bagian integral dari peningkatan mutu bibit sapi perah nasional.

(7)  Importasi bibit (calon induk maupun pejantan) dan benih Sapi Perah dapat menjadi salah satu opsi didalam peningkatan mutu bibit sapi perah, dengan pengawasan/ pengujian yang ketat.

  1. B. Pengendalian Mastitis

(1)  Pengendalian mastitis pada sapi perah memerlukan penyelesaian secara terintegratif dan berskala luas (lintas disiplin, melibatkan berbagai kepentingan), sehingga dalam pendekatannya memerlukan suatu gerakan nasional “kendalikan mastitis” yang didukung oleh banyak pihak, mulai dari pemerintah, industri/swasta, asosiasi, koperasi, penyuluh dan peternak.

(2)  Dalam rangka mendukung program pengendalian penyakit mastitis secara nasional diperlukan program dasar “pemetaan mastitis” dalam upaya membuat baseline data virulensi dan gambaran epidemiologi  mastitis di seluruh wilayah peternakan sapi perah.

(3)  Penanganan mastitis perlu dilakukan secara terencana dan sistematis berbasis pada implementasi SMART, SIPOC dan Best Management Practice (BMP),  dengan dukungan kebijakan dan pendanaan dari Pemerintah.

(4)  Jumlah sel somatik pada air susu perlu dimasukkan sebagai salah satu paremeter seleksi pada program seleksi sapi perah bibit di Indonesia

(5)  Perlu melibatkan partisipasi peternak/peternak anggota koperasi dalam penanggulangan mastitis dengan panduan yang baku melalui metode penanganan yang efektif dan efisien (tepat, cepat, murah).

(6)  Gerakan desinfektanisasi dan cara pemerahan yang baik dapat dijadikan salah satu upaya pengendalian mastitis yang mudah dan murah di tingkat peternak

Trackback from your site.

Leave a comment