Peternakan Rakyat Sebagai Basis Kekuatan Produksi

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Memasuki hari kedua Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-10 yang dilaksanakan oleh Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran membahas tentang upaya pemberdayaan yakni merekonstruksi posisi sektor pertanian khususnya peternakan menjadi basis ekonomi.

Pernyataan tersebut dikemukakan Prof. Dr. Drs. Ir. H. M. Munandar S, MS yang menjadi pembicara dengan tema, “Ekslusi Sosial dan Pemberdayaan Peternak” bertempat di Bale Sawala, Kamis (14/11/2019). Ia menjelaskan, upaya lain yang dapat dilakukan adalah konvensi harga, pemberdayaan pola kemitraan, dan penguatan usaha ekonomi atau sumber pendapatan.

“Dengan penguatan produksi, maka pemerintah bisa memberikan regulasi sebagai bentuk kebijakan yang mendukung peternakan rakyat,” ujarnya.

Sejalan dengan pernyataan Prof. Munandar, Dr. Sofyan Sjaf Kepala Pusat Studi Pembangunan Pertanian dan Pedesaan (PSP3) Institut Pertanian Bogor mengatakan, untuk meningkatkan pembangunan di pedesaan maka yang dapat dijadikan sebagai contoh adalah Sekolah Peternakan Rakyat (SPR).

“Pedesaan di Indonesia sebagai tempat atau lokus produksi dan reproduksi pangan, dimana sekitar 73.14 % desa tersebut merupakan tipologi pertanian. Pemberdayaan dilakukan dengan pendidikan vokasi sebagai pendekatan penyelesaian masalah. Bahkan, konsep SPR diadopsi oleh IAEA sebagai model pengembangan peternakan rakyat di dunia pada tahun 2018 lalu,” ungkap Sofyan Sjaf.

Turut hadir Prof. Dr. Ganjar Kurnia pada pembicara berikutnya, memaparkan tentang “Prospek dan Tantangan Penterapan Teknologi Pertanian 4.0”. Menurutnya, digitalisasi di dalam kegiatan pertanian dan peternakan mempunyai tujuan akhir untuk menghasilkan produk unggul, presisi, efisien, berkelanjutan dan mensejahterakan petani serta masyarakat keseluruhan.

“Peran perguruan tinggi secara kelembagaan dapat bertindak sebagai lembaga konsultasi terkait bidang pertanian dan peternakan. Sehingga pertanian pintar dan pertanian terukur dapat optimal, produktif, prediktif, antisipatif serta adaptif,” tuturnya. (BNS)