Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-VIII. "Pengembangan Ternak Lokal Dalam Mencapai Sustainable Development Goals". Tanggal 16 November 2016 | Download Prosiding Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-7

Ranting Iman

Written by admin on May 30, 2008. Posted in Informasi Umum

Dunia ini semakin tua. Perputaran waktu terasa begitu cepat. Dulu kita tidak mengenal hand phone, internet, TV kabel, dan lain-lain. Kini masyarakat telah terbiasa menggunakan, tapi baru sebatas menggunakan. Di belahan bumi sana masyarakatnya menemukan kecanggihan teknologi itu. Masyarakat kita usernya (konsumennya). Kecanggihan teknologi ini membawa konsekuensi positif sekaligus negatif.

Menyempitnya batas waktu dan wilayah telah menggiring manusia keperadaban baru yang banyak meninggalkan norma-norma agama dan masyarakat. Informasi yang masuk begitu cepat sampai ke sel-sel terkecil dalam kehidupan kita tidak disaring dengan baik. Sehingga arus informasi tersebut membawa sebuah kehidupan baru yang meninggalkan agama sebagai pijakan dalam hidup.

Lihatlah apa yang terjadi sekarang, banyak manusia (sebagiannya adalah muslim) yang tidak malu mengandung anak yang tidak diketahui siapa bapaknya. Perselingkuhan yang pada dasarnya adalah perzinahan menjadi trend, aksi pornoaksi dan pornografi yang selalu diselimuti oleh karya “seni” dan kebebasan berekspresi. Hidup bersama tanpa ikatan pernikahan bagi remaja-remaja kita bukan lagi sesuatu yang memalukan.

Dalam menyimak wejangan Rasullulah Khalid Muhammad Khalid mengatakan malu merupakan tabiat manusia, dan bukan merupakan keistimewaan suatu umat yang tidak dimiliki oleh umat lain. Artinya setiap manusia memiliki rasa malu. Hanya manusia yang keimanannya terganggu yang tidak memiliki rasa malu. Rasullulah bersabda, “Sesungguhnya kalimat kenabian pertama yang didapati umat manusia ialah: Jika kau tak punya malu, maka berbuatlah sesukamu.”

Malu seseorang terhadap dirinya adalah malunya pribadi agung untuk menerima kekurangan atau puas terhadap kehinadinaan. Maka pribadi seperti ini mendapatkan dirinya malu terhadap dirinya sendiri sehingga seakan-akan dia punya keping jiwa, yang masing-masing malu terhadap yang lainnya.

Rasullulah telah menjadikan malu sebagai cabang iman, karena kalau iman kepada Allah dan kepada kemahakuasaan-Nya dalam mendengar dan melihat apa saja sudah menghunjam kuat, maka ia akan mewariskan rasa malu kepada-Nya yang membuahkan kewaspadaan bagi seorang muslim.

Sumber: Ummul Quro, Edisi 34 Tahun 11

Trackback from your site.

Leave a comment