Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Sebanyak 113 Kelinci Ikuti Kontes dalam Rabbit Day 2010

Written by admin on November 27, 2010. Posted in Event

Laporan oleh: Hera Khaerani

[Unpad.ac.id, 27/11] Si kecil dengan potensi besar, rasanya itu bukanlah sebutan yang berlebihan untuk kelinci. Bagaimana tidak, hewan yang satu itu tidak hanya bisa dijadikan sebagai peliharaan, namun daging, bulu, bahkan feses dan urinnya pun bisa dimanfaatkan. Penelitian terbaru bahkan membuktikan bahwa bulu kelinci memiliki kualitas lebih baik dar pada wol karena lebih halus dan memiliki resiko menimbulkan alergi lebih rendah.

Sabtu, (27/11) ini, unit kegiatan mahasiswa Fakultas Peternakan Unpad, Rabbit Ranch menggelar Rabbit Day 2010 di Fakultas Peternakan Unpad, Jatinangor. Acara ini sendiri merupakan kegiatan dua tahunan yang kini sudah menginjak ketiga kalinya. Selain talk show, bazar, dan kuliner yang berbahan dasar kelinci, ada pula kontes untuk berbagai jenis kelinci. Sebanyak 53 peserta menyertakan kelinci mereka dan total 115 kelinci didaftarkan untuk ikut dalam kompetisi ini. Sayang sekali, terdapat dua ekor kelinci yang sakit dan tidak bisa mengikuti kontes itu.

Terdapat enam kategori kontes berdasarkan jenis kelinci, yakni kategori Rex, Netherland Dwarft, Anggora, Fuzzy Lop, Flamish Giant, dan Satin.  Penjurian berlangsung tertutup dan para peserta baru akan mengetahui hasilnya sore nanti. Rangkaian Rabbit Day 2010 ini dimulai dengan talk show yang mengundang para pakar kelinci, yaitu Dr. Ir. Yono C. Raharjo dari IPB, Guru Besar Unpad, Prof. Dr. Ir. Kusmayadi Suradi MS., dan Ir. Abun Budiatun MS. sebagai pembicara.

Para pengusaha kelinci yang mengikuti talk show tersebut tidak semuanya merupakan pemain lama, ada pula pemain baru yang sengaja datang untuk berguru ilmu. Salah satunya adalah Enung, seorang ibu asal Ciamis yang mengaku baru dua bulan belakangan memulai usaha kelincinya.

Ia mengkonsultasikan masalah pakan dan kesehatan kelincinya yang kerap mengalami borok. Menurut Abun, masalah kesehatan erat kaitannya dengan faktor kebersihan lingkungan, cuaca, dan pangan. Masalah pangan menjadi salah satu persoalan pelik bagi para peternak karena memerlukan teknologi yang memadai.

“Kelinci tidak bisa mengandalkan pakan hijau saja, harus dikombinasikan dengan bahan lain yang bentuknya sering dikenal dengan istilah pelet,” jelas Abun. Untuk mengembangkan keunggulan tertentu dari kelinci, pakan sangat berperan. Sebagai contoh, untuk menghasilkan bulu yang kualitasnya bagus, diperlukan asam amino di bawah 10 dalton.

Berbicara tentang potensi usaha kelinci, Dr. Yono mengatakan bahwa usaha di bidang kelinci itu harusnya menguntungkan. Ia menyebutkan, “Di Eropa, satu kelinci bisa menghasilkan 120 kilogram daging dalam setahun, dengan asumsi mereka melahirkan sebanyak 7 kali.”

Sayangnya untuk Indonesia, masih ada hal-hal yang perlu dibenahi. Untuk menciptakan pasar kelinci yang berkelanjutan, harusnya para peternak bergabung untuk membangun pasar tersebut. “Ambil contoh di Lembang, sulit sekali untuk membuat para peternak kelinci di sana untuk bergabung,” sebutnya. Hal ini mungkin dipengaruhi oleh besarnya keuntungan yang sudah didapatkan para pengusaha kelinci secara perseorangan hingga mereka tidak menyadari pentingnya bergabung dengan peternak lainnya.

Ia juga menjelaskan bahwa pola yang demikian membuat pengembangan usaha kelinci lebih banyak pada kebutuhan hewan peliharaan daripada untuk daging maupun olahan lainnya. “Para peternak di Lembang sekarang lebih banyak menjual kelinci yang masih kecil, padahal untuk kebutuhan daging diperlukan kelinci yang sudah besar,” ungkapnya.

Dampak dari perubahan ini adalah kini Lembang sebagai sentra budi daya kelinci tidak lagi bisa diandalkan untuk pemenuhan permintaan daging kelinci. Namun tentu saja kondisi ini kemudian berdampak positif bagi pengusaha kelinci di daerah-daerah lain.

Perhatian pemerintah memang sudah mulai ditunjukkan, diantaranya melalui pendanaan program Sarjana Masuk Desa (SMD) untuk mengembangkan peternakan kelinci di daerah. Namun karena nominalnya juga tidak terlampau besar maka pasar yang ideal belum bisa diciptakan. Perlu kemandirian para peternak dan hal itu akan menjadi lebih mudah jika semua bergabung dan bekerja sama menciptakan pasar besar yang diperlukan. (mar)*

Sumber: http://www.unpad.ac.id/archives/37470

Trackback from your site.

Leave a comment