Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

TALK SHOW QURBAN 2011

Written by admin on October 23, 2011. Posted in Event

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Dasar hukum melaksanakan syariat Islam yakni Qurban adalah Sunnah Mu’akkadah seperti yang tercantum dalam Quran Surat 37 Al-Shaffat:107. Sedangkan sanksi bagi orang yang tidak melakukan qurban berupa sanksi sosial. Demikian disampaikan oleh Dr. Mujiyo Nurkholis, M.AG dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) saat menjelaskan ibadah qurban dan hewan qurban pada Talk Show bertema “Tata Cara Pemilihan Hewan Qurban Berdasarkan Kaidah Islam Dengan Aspek Usaha Timbangan Bobot Hidup”, bertempat di Gedung IV Ampitheater Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran, Minggu (23/10).

Ia mengatakan syarat qurban yaitu hewan ternak khusus misalnya unta, sapi, kerbau, dan domba. Untuk unta minimal berumur 5 tahun. Sedangkan sapi atau kerbau 2 tahun. Selain itu hewan kambing 2 tahun dan domba 1 tahun. Sebaiknya semuanya telah memasuki tahun berikutnya. Kemudian hewan tersebut sehat dan tidak cacat atau sakit. Satu ekor unta, sapi, kerbau untuk tujuh orang, satu domba atau kambing untuk satu orang. Berniat ketika menyerahkan hewan kurban, dan pada saat penyembelihan harus memenuhi syariat islam.

“Ketentuan penyembelihan diantaranya adalah penyembelih orang Islam, alat berupa benda tajam yang bisa memotong selain dari tulang, gigi dan kuku, penyembelihan dilakukan sekaligus, tenggorokan dan kerongkongan benar-benar terputus, matinya hewan semata-mata karena disembelih,” kata Mujiyo.

Lebih lanjut, Ia menjelaskan sunah dalam qurban yakni hewan besar dan gemuk lebih baik daripada hewan yang kurus, seekor domba untuk seorang lebih utama daripada seekor sapi atau kerbau untuk tujuh orang, disedekahkan keseluruhan dan apabila akan ikut makan tidak melebihi sepertiganya.

Melengkapi Dr. Mujiyo Nurkholis, drh. Tine Nurasih dari Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat Bidang Kesmavet memaparkan penyakit yang menyerang hewan qurban salah satunya adalah penyakit individual seperti demam, kembung perut, gangguan pencernaan (mencret), peradangan pada mata.

“Untuk penyakit menular dapat diketahui misalnya Orf (lepuh-lepuh pada bibir banyak terjadi pada domba), serta anthrax (limpa bengkak). Seandainya sampai di konsumsi manusia untuk dimakan, ini sangat membahayakan dan perlu dicegah. Lalu bagaimana mendapatkan hewan qurban yang sehat? Hewan diperiksa oleh dokter hewan atau petugas dinas peternakan yang berwenang dilengkapi surat keterangan untuk hewan qurban yang sehat. Dari hewan qurban yang sehat, diharapkan dapat dihasilkan daging qurban yang sehat pula sehingga tidak menyebarkan penyakit pada manusia,” jelasnya.

Pembantu Dekan III Dr. Rahmat Hidayat yang hadir dalam acara Talk Show ini juga menyampaikan pentingnya memahami syariat Islam (Qurban) karena selain syarat sah atau tidaknya kita melakukan qurban sekaligus merupakan peluang yang sangat besar untuk usaha di bidang peternakan.

“Kita harus cermat dalam memilih pedagang profesional hewan qurban ini. Hal tersebut dapat dilihat dari mengetahui syariat Islam dengan baik, menguasai kesehatan ternak, dilengkapi sarana yang lengkap serta yang paling penting adalah pedagang tersebut jujur. Untuk itu sebagai insan pelaku peternakan, diharapkan mahasiswa peternakan menjadikan momen ini sebagai proses pembelajaran wirausaha dan pelaku bisnis peternak yang andal,” ujar Dr. Rahmat Hidayat.

Pembicara selanjutnya Dede Asepudin mewakili PT. Citra Agro Buana Semesta perusahaan yang bergerak di bidang peternakan penggemukan sapi potong impor Australia menawarkan sebuah solusi penjualan dengan sistem timbang berat hidup, dengan dilakukan proses penggemukan terlebih dahulu sehingga kualitas hewan qurban yang di jual belikan dapat memuaskan konsumen dan persyaratan qurban secara syariat Islam terpenuhi.

“Penjualan secara bobot hidup, sebelumnya dilakukan pemeriksaan oleh dr hewan perusahaan bekerjasama dengan dinas peternakan. Kemudian penimbangan bobot hidup jual dilakukan H minus 10. Setelah dipesan, hewan qurban selama di kandang pemberian kebutuhan pakan dan minum tidak dibebankan kepada konsumen. Dan untuk masalah pengiriman, hewan qurban dikirim sampai tujuan, dengan jaminan keamanan dan kesehatan ternak yang baik sesuai pesanan dengan cara mencocokan dari no kuping, serta bobot hidup hewan qurban tersebut yang tertera di DO kiriman,” ungkap Dede. (BNS)

Trackback from your site.

Leave a comment