Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

WHY?

Written by admin on December 30, 2008. Posted in Informasi Umum

–  Dahulu ketika terjadi silang sengketa, peran para ketua suku mampu menyelesaikan ber- bagai persoalan serumit apapun melalui musyawarah mufakat.

–  Dahulu kepemilikan wilayah dicanangkan dan diimplementasikan dengan penuh arif. Usahkan hutan, sepetak lahan bertanda larangan saja membuat gamang dimasuki.

–  Dahulu para pemangku adat, alim ulama, dan kaum bijaksana menyatu disegani. Ditangan mereka kerukunan hidup berlangsung.

–  Dahulu budaya akrab lingkungan.

–  Kini anak negeri semakin banyak menghuni rumah prodeo, bahkan density pesakitan se-makin tinggi. Jangan-jangan nanti bangunan penjara harus ditingkatkan.

–  Kini hutan belantara saja sudah terkotak-kotak, apalagi milik keturunan. Mau ber-bentuk apa ya negeri ini di kemudian hari?

–  Kini para pemangku adat, alim ulama dan kaum bijaksana “terpinggirkan”, gara-gara wibawa dikesampingkan oleh “kekuasaan” sesaat.

–  Kini budaya “tetangga” kian melela.

Masih berjibun lagi paradoksal ditemui, sehingga timbul suatu paham “mengapa adat-istiadat terkikis”?. Padahal dia itu “tak kan lapuk lantaran hujan, tak kan lekang karena matahari” ratna mutu manikamnya negeri yang harus tetap lestari.

(Donquixote, Bandung 30 Desember 2008 10.29)

Trackback from your site.

Leave a comment