WHY?

–  Dahulu ketika terjadi silang sengketa, peran para ketua suku mampu menyelesaikan ber- bagai persoalan serumit apapun melalui musyawarah mufakat.

–  Dahulu kepemilikan wilayah dicanangkan dan diimplementasikan dengan penuh arif. Usahkan hutan, sepetak lahan bertanda larangan saja membuat gamang dimasuki.

–  Dahulu para pemangku adat, alim ulama, dan kaum bijaksana menyatu disegani. Ditangan mereka kerukunan hidup berlangsung.

–  Dahulu budaya akrab lingkungan.

–  Kini anak negeri semakin banyak menghuni rumah prodeo, bahkan density pesakitan se-makin tinggi. Jangan-jangan nanti bangunan penjara harus ditingkatkan.

–  Kini hutan belantara saja sudah terkotak-kotak, apalagi milik keturunan. Mau ber-bentuk apa ya negeri ini di kemudian hari?

–  Kini para pemangku adat, alim ulama dan kaum bijaksana “terpinggirkan”, gara-gara wibawa dikesampingkan oleh “kekuasaan” sesaat.

–  Kini budaya “tetangga” kian melela.

Masih berjibun lagi paradoksal ditemui, sehingga timbul suatu paham “mengapa adat-istiadat terkikis”?. Padahal dia itu “tak kan lapuk lantaran hujan, tak kan lekang karena matahari” ratna mutu manikamnya negeri yang harus tetap lestari.

(Donquixote, Bandung 30 Desember 2008 10.29)

<-- wqqd9333 -->