Seminar Nasional Peternakan Berkelanjutan ke-9 dan Workshop Fakultas Peternakan Unpad. Diselenggarakan Pada Tanggal 15-16 November 2017 bertempat di Bale Sawala dan Aula Fapet Unpad.

Yudi Guntara, Ogah Cuma Jadi “Kacung”

Written by admin on February 18, 2009. Posted in Informasi Umum

Impiannya ke mancanegara jadi kenyataan, meski cita-cita jadi dosen sebagai alasan ke luar negeri tak kesampaian

Suara, pemikiran atau bahkan wajahnya selama ini banyak dikenal sebagai pemangku kepentingan persapian. Seperti yang terakhir, saat kembali mencuat isu rencana pemerintah memasukan daging asal Brasil, pria asli Bandung ini lagi-lagi menyuarakan pandangannya: tolak abiss!!…
“Saya tidak bisa memahami dasar pemikiran pemerintah dalam soal ini. Apa maunya?” tanya Ketua Umum ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia) ini tak habis pikir. Sepak terjang Yudi memang identik dengan hal-hal yang terkait dengan sapi atau daging sapi. Tak aneh, mengingat dia pelaku usaha yang bergerak di penyedia sapi dan daging sapi, serta karena keberadaannya di Apfindo (Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia) dan PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia).
Tak banyak yang tahu kalau alumni Universitas Padjadjaran lulusan 1993 ini sempat nyemplung di bisnis broiler, bahkan inspirasi bisnis ditemukannya dari seorang tokoh perunggasan. “Guru enterpreunership saya Pak Haji Adjat,” tunjuknya. Yang dimaksud Yudi adalah Adjat Darajat, pengusaha broiler sukses asal Ciamis. Semasa kuliah, tiap kali liburan ia nyanggong di Cikoneng, kandang milik Adjat. Darinya-lah Yudi, yang anak seorang tentara, terinspirasi menjadi seorang usahawan. Selepas pendidikan, Yudi muda sempat mengelola sekitar 50 ribu broiler milik peternak berlokasi di kawasan Bekasi. “Hanya sekitar 3 bulan, tak lebih,” ucapnya sambil tertawa terkenang kisah hidupnya.

Titik Tolak
Garis hidup menuntunnya mengenal bisnis sapi pada 1993 dengan bekerja di PT Lintas Nusa, sebuah perusahaan bergerak di penggemukan sapi potong. Sebuah pemikiran jadi titik tolak terbukanya jalan hidup Yudi berikutnya ke depan. “Saya menganggap bisnis ayam sudah jenuh, dan bisnis ini sudah tertata dengan industri besar sudah mapan di sana. Peternak di aspek budidaya sekuat apapun menguras tenaga akan segitu-gitu aja,” tuturnya. Sementara perkenalan dengan dunia sapi menunjukkan padanya sebuah pintu gerbang yang terbuka lebar dengan kesempatan yang tergelar luas. “Saat itu baru segelintir perusahan yang sudah besar di bisnis sapi, seperti Tippindo,GGLC dan LJP,” ia beralasan. Masuk 1995 ia mendirikan PT Agronandini Perdana membangun kandang di Malangbong, dan mengaku tidak terlalu muluk-muluk, “Mulai dengan skala kecil, 300 – 400 ekor. Waktu itu masih ada kapal kapasitas 700-an, kita impor dua bulan habis.”

Gurem yang Naik Kelas
Krismon 1998, dinilainya sebagai bencana yang membawa berkah. “Di saat yang besar-besar seperti LJP dan Tippindo menanggung beban krisis permasalahan berat, kelas gurem seperti kita justru relatif bertahan,” ia bercerita. Bahkan ia mengaku bisa naik kelas, menjadi nomor dua secara nasional. Itu tak lepas karena saat itu -1999- di bawah bendera kedua yang didirikannya: PT Citra Agro Buana Semesta (CABS), ia menerapkan kerjasama strategis dengan pihak Australia. “Mereka kesulitan memasarkan sapinya, kita terkendala dana. Jadi kita menjamin pasar mereka di tanah air dan mereka kirim sapinya.” Jadi CABS memegang pemasarannya, sementara modal sepenuhnya milik pemasok dari Australia. Selama 3 tahun, 1999 – 2002, perusahaannya bahkan sempat sewa kandang Tippindo-Lampung yang mangkrak (tidak beroperasi). Sekitar 50 ribu ekor sapi impor setahunnya dipasarkan CABS kala itu, di bawah PT Santori yang angka impornya saat itu mencapai 70 ribuan.
Tapi Yudi tak ingin sistem itu terus berkepanjangan, “Mau kata pegang sapi 50 ribu tapi itu duit orang, kita cuma jadi ‘kacung’,” ia mendeskrepsikan. Maka 2002 ia memutuskan meninggalkan Lampung kembali ke Malangbong. Dengan modal dari kantong sendiri ia pun mengembangkan bisnis miliknya yang pernah ditinggalkan. Kini, kapasitas kandangnya mencapai 10 ribu ekor, dengan perputaran 36 ribu ekor sapi per tahunnya.
Ditanya cita-cita sebelum selesai studi, Yudi menyebut profesi dosen. “Alasannya pengen ke luar negeri. Jadi dosen supaya bisa sekolah ke luar negeri,” setengah geli ia menjelaskan. Tapi meski ambisinya jadi pengajar tak tercapai, keinginannya berkeliling ke berbagai negara sudah kesampaian dengan kenyataan ia menjadi pengusaha sapi saat ini.

Intens Pembibitan Domba Garut
Barangkali tidak banyak yang tahu juga kalau ayah dari Andi Aulia Nurahman (12) dan Radi Ibrahim Nurfadilah (8) ini terjun di bisnis domba, bahkan siapa sangka kalau ia adalah Ketua Umum HPDKI Jawa Barat (Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia). Yudi mengaku saat ini punya sekitar 250 ekor induk domba Garut di kandangnya Malangbong. “Kita sedang fokus di pembibitan, memurnikan domba Garut,” imbuhnya.
Ia berkisah, perkenalannya dengan domba berawal dari strategi pemasaran sapi miliknya. Salah satu pelanggannya adalah penggemar kambing-domba, sehingga ia memasuki dunia itu sebagai pendekatan untuk mendapatkan order pesanan. “Nilai omset pesanan dari orang ini besar, jadi saya berupaya bisa dapat mempertahankan sebagai pelanggan,” ujarnya sambil nyengir.
Tapi berikutnya domba diseriusi dengan alasan kultur Jawa Barat sangat identik dengan kambing-domba. Dan aktif di organisasi yang menghimpun peternak kambing-domba se Jabar dirasakannya punya makna lebih. “Peternak kambing-domba itu betul-betul grass root, tersebar di pedesaan dengan kompleksitas masalahnya yang khas petani-peternak,” ucapnya. Maka amanah sebagai pengurus HPDKI dijabaninya, meski menurut dia bekerja di asosiasi yang mengurusi peternak jauh lebih rumit dibandingkan sebagai pengusaha. Dan karena posisinya itu pula maka Wakil Ketua Bidang Budidaya Peternakan Kadin Indonesia ini kian lantang menyuarakan penolakannya rencana pemerintah memasukkan daging asal negara belum bebas PMK. “Karena kambing-domba termasuk hewan kuku genap yang juga punya risiko tinggi tertular. Saya harus berpihak pada peternak nasional!” ujarnya serius.

Ingin Bermanfaat
Memasuki usianya yang ke-40, selain menjaga modalnya di bisnis sapi tetap kuat, pria penyandang jabatan Sekretaris Dewan Penyantun Unpad ini berupaya menjadikan dirinya bermanfaat, terutama bagi petani-peternak.

Selengkapnya baca di Majalah Trobos edisi Februari 2009

Sumber: http://www.trobos.com/show_article.php?rid=21&aid=1452

Trackback from your site.

Leave a comment