KAPAN WAKTU YANG TEPAT UNTUK PANEN?

Tujuan pemeliharaan ayam yang dilakukan oleh peternak ataupun industri peternakan (ayam) adalah hasil yang memuaskan (baik Index Performa ataupun nilai ekonomis /keuntungan). selama proses pemeliharaan, manajemen pemeliharaan dilakukan secara total dengan maksud supaya hasil bisa memuaskan. kapan sebaiknya ayam yang dipelihara tepat untuk dilakukan panen?

Secara teknis produksi, ayam tepat untuk dilakukan panen yaitu ketika ayam tersebut sudah bisa mencapai standar yang diterapkan (bobot dan fcr). Waktu yang tepat untuk penjualan ayam broiler akan menentukan seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh peternak. Semakin besar badan broiler maka semakin banyak pakan yang dikonsumsi untuk menghasilkan 1 Kg daging.

Salah satu cara yang biasa digunakan untuk mengukur keberhasilan usaha Broiler adalah dengan menghitung konversi pakan, maksudnya adalah jumlah Kg pakan yang dihabiskan untuk mendapatkan 1 Kg daging. Semakin besar hasil baginya berarti konversi pakannya besar, maka efisiensi penggunaan pakan semakin kurang baik, dan begitu juga sebaliknya. (more…)

NOTE 1

“Many microorganisms are high in protein and could be used as sources of protein food for humans or animals. However, the economics of producing single-cell protein are unsatisfactory when compared with protein production from meat or grain. The most important food produced microbially is the mushroom, which is produced not Read more…

Jadi Indikasi Ketidaksungguhan PSDS 2010

Mencuatnya kembali niatan pemerintah untuk mengimpor daging sapi dari Brasil, menjadi sesuatu hal yang sangat menarik untuk dicermati.

Oleh : Cecep Hidayat

Dan tidak heran, bila dalam menyikapi rencana ini, beragam reaksi pun muncul dari para stakeholder (pemangku kepentingan) insan peternakan Indonesia.
Alasan yang mengemuka adalah untuk mendapatkan harga yang jauh lebih murah, kabarnya bisa sampai 60 % dari harga daging sapi asal Australia dan New Zealand, negara selama ini menjadi pemasok utama. Dengan kata lain mengurangi ketergantungan terhadap dua negara tersebut. Dan nama Brasil disebut-sebut dipilih pemerintah sebagai alternatif untuk membuka keran impor dari negara lain. Munculnya nama Brasil tentu bukan asal sembarang adanya, negara yang terkenal sebagai pusat ‘pembibitan” bintang sepak bola dunia ini, telah eksis sebagai salah satu eksportir dan negara dengan populasi ternak sapi potong terbesar di dunia.
Tetapi menjadi masalah dan menuai kritik bahkan penolakan keras dari sebagian stakeholder peternakan Indonesia, karena faktanya secara negara/country Brasil belum sepenuhnya bebas dari Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) serta penyakit Sapi Gila. Sehingga “lampu merah” pun dinyalakan terhadap rencana ini. Dua penyakit tersebut masih dikategorikan jenis penyakit yang mudah menyebar antar ternak, bahkan dapat menjangkiti serta membahayakan bagi manusia yang mengkonsumsinya. (more…)

Deptan Inginkan Kurangi Ketergantungan Impor Bahan Baku Pakan

Direktorat Jenderal Peternakan Departemen Pertanian berharap industri pakan ternak tidak lagi Impor jagung pada tahun ini. Untuk bahan baku pakan lainnya, Deptan berharap pabrik, pakan bisa mengurangi ketergantungan impornya. Harapan Deptan agar pabrik pakan tidak imporjagung di tahun ini sangat beralasan. Sebab menurut data yang diungkap Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) tahun ini, seluruh pabrik pakan hanya memerlukan jagung sebanyak 4,07 juta ton untuk bahan baku pakan ternak. Sedangkan produksi jagung nasional 2009 diperkirakan mencapai 18,00 juta ton.

Keinginan pemerintah tersebut kata Dirjen Peternakan Tjeppy D Soedjana karena saat ini dunia tengah mengalami krisis ekonomi global sehingga kita tidak lagi bisa menggantungkan bahan baku pakan dari impor. Dia mengungkapkan, pada tahun 2008 kebutuhan jagung untuk pakan 4 juta ton, impornya 4 persen atau sekitar 170 ribu ton. Impor jagung itu jauh menurun bila dibanding pada tahun 2007 sebesar 676 ribu ton.

Data Ditjen Peternakan seperti dibacakan Direktur Budidaya Ternak Non Ruminansia Drh Djajadi Gunawan dalam Rapat Koordinasi Pakan, bahan baku pakan ternak yang sudah bisa dipenuhi dari lokal adalah dedak padi, tepung batu, biji batu, bungkil kopra, bungkil sawit dan CPO. “Namun masih ada bahan baku pakan ternak yang seratus persen diimpor yakni bungkil kedelai, rape seed meal, corn gluten meal, calcium phosphate, feed additive dan vitamin,” kata Dirjen Peternakan Tjeppy D Soedjana dalam sambutannya yang dibacakan Djajadi Gunawan. (more…)

Yudi Guntara, Ogah Cuma Jadi “Kacung”

Impiannya ke mancanegara jadi kenyataan, meski cita-cita jadi dosen sebagai alasan ke luar negeri tak kesampaian

Suara, pemikiran atau bahkan wajahnya selama ini banyak dikenal sebagai pemangku kepentingan persapian. Seperti yang terakhir, saat kembali mencuat isu rencana pemerintah memasukan daging asal Brasil, pria asli Bandung ini lagi-lagi menyuarakan pandangannya: tolak abiss!!…
“Saya tidak bisa memahami dasar pemikiran pemerintah dalam soal ini. Apa maunya?” tanya Ketua Umum ISPI (Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia) ini tak habis pikir. Sepak terjang Yudi memang identik dengan hal-hal yang terkait dengan sapi atau daging sapi. Tak aneh, mengingat dia pelaku usaha yang bergerak di penyedia sapi dan daging sapi, serta karena keberadaannya di Apfindo (Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia) dan PPSKI (Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia).
Tak banyak yang tahu kalau alumni Universitas Padjadjaran lulusan 1993 ini sempat nyemplung di bisnis broiler, bahkan inspirasi bisnis ditemukannya dari seorang tokoh perunggasan. “Guru enterpreunership saya Pak Haji Adjat,” tunjuknya. Yang dimaksud Yudi adalah Adjat Darajat, pengusaha broiler sukses asal Ciamis. Semasa kuliah, tiap kali liburan ia nyanggong di Cikoneng, kandang milik Adjat. Darinya-lah Yudi, yang anak seorang tentara, terinspirasi menjadi seorang usahawan. Selepas pendidikan, Yudi muda sempat mengelola sekitar 50 ribu broiler milik peternak berlokasi di kawasan Bekasi. “Hanya sekitar 3 bulan, tak lebih,” ucapnya sambil tertawa terkenang kisah hidupnya. (more…)

Pemakaian Biogas Hemat Penggunaan Listrik 50%

BANDUNG, (PR).-
Selama 2008, pemanfaatan sumber energi alternatif biogas dari ternak hewan mampu mengurangi biaya pemakaian listrik sebesar 50% atau sekitar Rp 46.214,00 per kepala keluarga (KK) per bulan.

“Sementara dari sisi negara dapat menghemat biaya operasi kelistrikan per bulan untuk setiap KK menjadi Rp 250.425,00,” ujar Adang Djarkasih, Deputi Manager Komunikasi Perusahaan Listrik Negara Distribusi Jawa Barat dan Banten (PLN DJBB) ketika ditemui di kantornya, Rabu (11/2).

Penggunaan energi alternatif yang telah dirintis sejak empat tahun yang lalu ini telah diterapkan di beberapa daerah di Jabar seperti Parongpong, Cililin, serta Desa Energi Mandiri Haurngombong Kec. Pamulihan Kab. Sumedang.

Menurut Adang, setengah dari penduduk Desa Haurngombong telah memakai biogas sebagai langkah penghematan yang juga ramah lingkungan.

“Desa percontohan tersebut merupakan bagian dari program CSR kami mengenai penghematan energi. Dan tahun ini, target kami selanjutnya adalah membuat desa energi mandiri lainnya di beberapa desa potensial seperti Cidaun (Cianjur Selatan) serta Pangalengan,” tuturnya. (more…)

Amoniasi Meningkatkan Kualitas Pakan Ternak

Hijauan merupakan sumber pakan utama yang harus selalu tersedia dalam jumlah cukup dan berkualitas guna meningkatkan produksi ternak ruminansia (sapi, kerbau, kambing, dan domba). Hijauan yang umum diberikan untuk ruminansia adalah rumput-rumputan yang berasal dari padang penggembalaan atau kebun rumput, tegalan, pematang, serta pinggiran jalan.

Walau demikian, masih ada sumber pakan ternak yang belum dimanfaatkan secara optimal, yaitu limbah produksi padi berupa jerami. Ketersediaan jerami padi cukup melimpah, namun pemanfaatannya untuk pakan ternak belum banyak dilakukan di Indonesia.

Jerami yang tersedia umumnya tidak dalam keadaan baik untuk digunakan sebagai pakan ternak, karena busuk dan basah terendam air sawah atau hujan.

Kandungan Gizi

Jerami padi merupakan hasil ikutan pertanian terbesar di Indonesia, jumlahnya sekitar 20 juta ton per tahun.

Produksinya per hektare sawah padi bisa mencapai 12-15 ton, atau 4-5 ton bahan kering setiap kali panen, tergantung lokasi dan varietas tanaman (Subagyo, 2008).

Sejauh ini, pemanfaatan jerami padi sebagai pakan baru mencapai 31-39 %, sedangkan yang dibakar atau dikembalikan ke tanah sebagai pupuk 36-62 %, dan sekitar 7-16 % digunakan untuk keperluan industri (Syamsu, 2008). (more…)