Eri Erianto sedang memberikan pakan Ulat Jerman (foto: agus)*

JATINANGOR, peternakan.unpad.ac.id – Budidaya jenis ulat-ulatan yang tak umum dan jarang di geluti oleh kaum muda atau kaum milenial, ternyata berternak ulat  dapat menghasilkan pendapatan dan keuntungan karena ada manfaatnya.

Adalah   Ulat jerman atau yang juga dikenal dengan sebutan superworm merupakan ulat yang berukuran 5 cm sampai 6 cm. ulat jerman adalah larva kumbang hitam. Ulat  jerman atau King Mealworm (Zophobas morio) adalah salah satu bahan pakan yang paling banyak digunakan sebagai pakan reptil, burung, unggas, dan ternak lainnya. Ukuran tubuhnya bisa 7 kali lipat lebih besar daripada ulat hongkong. Kandungan protein dan zat gizi lainnya pada ulat jerman juga lebih tinggi daripada ulat jerman. Bahkan, ulat jerman. Awalnya, bibit ulat jerman didatangkan dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan.

Ulat Jerman juga mempunyai manfaat di antarannya Membuka peluang usaha Sebagai pakan burung kicau yang dapat merangsang birahi dan tidak membuat  suhu badan naik yang bisa menyebabkan bulu rontok, Sebagai pakan reptile yang dapat mempercepat pertumbuhan, Sebagai pakan ikan predator yang dapat membantu mengeluarkan warna dan mempercepat pertumbuhan, Ulat jerman juga dapat digunakan sebagai tambahan bahan baku produk kecantikan yang  diambil dari ekstrak minyak karena kandungan proteinnya bagus untuk kulit dan Diluar negeri ulat jerman dijadikan sebagai pengganti protein hewani.

Melihat potensi di atas Eri Erianto Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran angkatan 2018  mencoba  membudidayakan ulat jerman hingga bisa meraih omset jutaan rupiah per bulan.

Budidaya ulat jerman mulai digelutinya sejak awal mulai pandemi COVID-19 dan belajar dari para senior dan dosen serta laboran di laboratorium Fakultas Peternakan, Eri mencoba berternak ulat jerman sambil kuliah di Fakultas Peternakan dan sekarang Eri sedang menyelesaikan skripsinya.

Eri Erianto mengatakan “Saya berternak ulat jerman sejak semester 3, bermula dari saya sering main ke kandang laboratorium Fakultas Peternakan saya bertemu kakak tingkat saya yang pada waktu itu tinggal dikandang dan kebetulan beliau dulu pelihara ulat jerman. Karena saya kebingungan pada saat itu untuk mencari tambahan  saya memberanikan diri untuk membeli indukan ulat jerman sebanyak 100 ekor dengan harga per ekor 2 ribu. Pada awal saya beternak ulat jerman saya belum mengetahui bagaimana tata cara pemeliharaannya dan kemana menjualnya namun seiring berjalannya waktu saya banyak belajar dari kakak tingkat, peternak yang ada di daerah Majalaya selain itu saya juga mendapatkan ilmu dari youtube”.

“Cara saya membagi waktu antara beternak dengan kuliah yaitu saya selalu membagi waktu setiap harinya untuk memberi pakan ulat di pagi hari sekitar jam 6 dan setelah itu saya kuliah, jika telah selesai kuliah dan masih diatas jam 6 sore maka saya terkadang melayani konsumen bila mana ada yang ingin membeli ulat. Terlepas dari jam 6 sore saya biasa mengerjakan tugas kuliah, sehingga kuliah saya tidak terganggu” ujarnya

“Saya panen 15 hari sekali dan sekali panen bisa  menghasilkan 5 sampai 20 Kg ulat jerman dengan harga Rp. 40.000 s/d Rp.80.000 / kg”. ujar Eri.

“Dengan di gelutinya berternak ulat jerman mudah mudahan dapat mendorong kaum muda atau kaum milenial untuk berternak ulat karena banyak manfaatnya dan keuntungan lumayan besar serta pemeliharan ulat tersebut tidak terlalu sulit dan dapat di panen sebulan 2 kali” ujarnya  (agus)


0 Comments

Leave a Reply

Avatar placeholder

Your email address will not be published.